Analisis Novel Tulisan Sastra

 ANALISIS UNSUR INSTRINSIK  DAN EKSTRINSIK NOVEL “TULISAN SASTRA” KARYA TENDERLOVA

OLEH

KELOMPOK 7


Abstrak

This study examines the intrinsic elements of the novel entitled "Tulisan Sastra" by Tenderlova. This study aims to analyze, describe, and interpret the intrinsic elements in the novel "Literary Writing". This analysis uses a structural approach. The intrinsic elements or building blocks discussed are the facts in the novel which consist of the theme, setting, plot, point of view, character, character and then the message. Research in the novel "Tulisan Sastra" uses a qualitative descriptive research method that uses a structural approach. The structural approach is an approach in literature by analyzing the elements and structures that build literary works from within the story and looking for the interrelationships of these building elements to achieve unanimity of meaning. Data processing to use structural analysis techniques, the intrinsic elements of the novel by identifying by reading and taking notes. Identifying themes, plots, characterizations, settings, points of view, language styles and writing excerpts taken from the story "Tulisan Sastra". To analyze by interpreting the contents of the excerpts taken from the novel "Literary Writing", reviewing/analyzing more deeply the contents of the excerpts and describing them. From the results of the analysis there are intrinsic elements in the novel "Tulisan Sastra" namely the theme, characterizations, plot, setting, point of view, style of language and the message conveyed clearly. In analyzing the intrinsic elements of the novel "Tulisan Sastra" can be used as motivation for readers.

Abstrak

Penelitian ini menelaah unsur-unsur intrinsik novel yang berjudul “Tulisan Sastra” karya Tenderlova. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, mendeskripsikan, dan menafsirkan unsur-unsur intrinsik yang ada dalam novel “Tulisan Sastra”. Analisis ini menggunakan pendekatan struktural. Unsur intrinsik atau unsur pembangun yang dibahas adalah fakta yang ada dalam novel yang terdiri atas tema, latar, alur, sudut pandang, tokoh, perwatakan dan kemudian amanat. Penelitian dalam novel “Tulisan Sastra” menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan pendekatan struktural. Pendekatan struktural merupakan suatu pendekatan dalam ilmu sastra dengan cara kerjanya menganalisis unsur-unsur dan struktur yang membangun karya sastra dari dalam cerita serta mencari keterkaitan unsur pembangun tersebut untuk mencapai kebulatan makna. Pengolahan data untuk menggunakan teknik analisis struktural, unsur intrinsik novel dengan mengidentifikasi dengan cara membaca dan mencatat. Mengidentifikasi tema, plot, penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa serta menulis cuplikan yang di ambil dari cerita “Tulisan Sastra”. Untuk menganalisis dengan cara menafsirkan isi cuplikan yang di ambil dari novel “Tulisan Sastra”, mengulas/menganalisis lebih dalam isi cuplikan serta mendeskripsikan. Dari hasil penganalisisan terdapat unsur-unsur intrinsik yang ada dalam novel “Tulisan Sastra” yaitu tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa serta amanat yang disampaikan secara jelas. Dalam menganalisis unsur intrinsik novel “Tulisan Sastra” dapat dijadikan pemanfaatan menjadi motivasi bagi pembaca.


PENDAHULUAN

Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya ketertarikan peneliti untuk membedah unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel karya Andrea Hirata yang berjudul “Tulisan Sastra”. Peneliti merasa bahwa novel tersebut sangat unik dan menarik untuk dibedah dari segi bacaannya dan dari segi unsur-unsur yang ada dalam novel “Tulisan Sastra”. Unsur-unsur inrtinsik yang sangat menarik untuk diteliti diantaranya adalah tema, latar, alur, penokohan, sudut padang, gaya bahasa dan amanat. Dalam hal ini penelitian juga bertujuan untuk menganalisis, mendeskripsikan dan menafsirkan unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam novel “Tulisan Sastra” karya Terderlova. Menganalisis dari mulai tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa serta amanat yang terkandung dalam novel. 

Sastra berasal dari bahasa sanskerta yaitu kata "shastra" yang merupakan kata serapan dari bahasa sansekerta, memiliki makna "teks yang mengandung intruksi atau pedoman”. Kata "sas'' yang memiliki makna “intruksi atau ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasanya digunakan untuk mengacu kepada " kesusastraan " atau sesuatu tulisan yang memiliki arti, makna dan juga sesuatu yang memiliki suatu keindahan tertentu.

Disini nantinya peneliti akan melakukan tindakan pendeskripsian terhadap unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat dalam cerpen “Tulisan Sastra”. Karya sastra merupakan bentuk hasil ciptaan manusia yang dilandaskan dengan pemikiran manusia, dimana di dalamnya terdapat imajinasi manusia yang dituangkan kedalam bentuk media lisan dan tulisan, sastra ini memiliki sifat khayalan seakan-akan menyatakan dan mengungkapkan suatu bentuk kefaktaan. Tetapi sastra juga memiliki nilai keindahan di dalamnya, tetapi sastra juga dapat terbentuk karena adanya pemikiran yang mendalam bukan hanya sebatas pemikiran tanpa adanya kejadian.

Novel dapat diartikan sebagai salah satu bentuk dari karya sastra fiksi yang paling baru. Secara etimologis novel berasal dari kata novellus memiliki arti "Sesuatu baru ". Novel dapat berarti baru karena kemunculannya kemudian dipadankan dengan jenis-jenis lain seperti roman atau puisi (Tarigan, 2003: 164). Stanton (dalam Akbar, Winarni & Andayani, 2013: 57) mengatakan karya sastra seperti novel merupakan karya sastra yang mudah maupun lebih sulit dibaca jika dibandingkan dengan cerpen. Dikatakan lebih mudah karena sebuah novel tidak dibebani tangung jawab untuk menyampaikan cerita dalam bentuk ringkas, cepat dan padat. Sedangkan dianggap lebih sulit, isi dari novel memiliki skala lebih besar dan luas dibanding cerpen.

Menurut Kosasih Ada lima unsur intrinsik padanovel, kelima unsur tersebut meliputi meliputi tema, alur atau plot, latar atau setting, penokohan dan amanat, kemudian unsur ekstrinsiknya berupa latar belakang masyarakat, pandangan hidup pengarang, latar belakang penulis, keadaan subjektivitas pengarang, amanat, unsur biografi, tempat novel di karang. 

1. Secara bahasa, pengertian tema adalah berasal dari Yunani, yaitu “tithenai” yang artinya adalah menempatkan atau meletakkan. he Liang Gie (1976): Tema adalah ide pokok yang dipersoalkan dalam karya seni. Ide pokok yang dimaksud didasarkan pada pokok persoalan (subject matter) dan judul karya tulis tersebut, bahwasanya dalam hal ini dapat dikatakan bahwa tema memiliki kedudukan yang sangat penting dalam dalam cerita pendek. 


2. Alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk sebuah cerita. Peristiwa-peristiwa tersebut saling berhubungan secara runtut sehingga terjalin suatu cerita yang bulat. Alur dapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu: 

• Alur maju merupakan alur yang menceritakan peristiwa-peristiwa dalam cerita secara kronologis. Cerita diawali dengan tahap pengantar dan diakhiri tahap penyelesaian. 

• Alur mundur merupakan alur yang menceritakan peristiwa-peristiwa dalam cerita secara terbalik. Cerita tidak harus dimulai dari tahap pengantar. Cerita dapat dimulai dari tahap penampilan masalah, puncak ketegangan, atau penyelesaian. Alur ini disebut juga alur flashback. 

• Alur campuran merupakan sebuah campuran yang terdapat pada alur maju dan alur mundur. 


3. Tokoh merupakan orang orang yang berperan dalam suatu peristiwa, dapat dikatakan tokoh ini orang orang yang menjadi pelaku dalam sebuah cerita, tanpa seorang tokoh peristiwa tersebut tidak akan dapat berjalan dengan baik dan lancar, sebab peran utama dalam sebuah cerita adalah tokoh. 


4. Penokohan merupakan suatu gambarana yang ditampilkan secara jelas dalam sebuah cerita. Dapat diartikan bahwa penokohan merupakan bentuk penggambaran karakter atau sikap yang diperankan oleh seorang tokoh, terdapar berbagai bentuk karakter dan sikap dalam penokohan ini adalah protagonis, antagonis, dan tritagonist, ketiga watak ini memiliki peranan yang sangat penting dalam sebuah cerita ataupun peristiwa. 


5. Latar merupakan bentuk dimana kejadian tersebut dapat terjadi, latar dapat menggambarkan suatu peristiwa dengan keadaan yang berbeda beda, latar merupakan unsur pendukung dalam suatu peristiwa. Terdapat berbagai macam bentuk latar yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar suasana. 


6. Gaya bahasa merupakan cara ataupun variasi seorang pengarang dalam mengungkapkan pemikiran ataupun ide melalui berbagai macam bentuk variasi bahasa, baik itu berupa majas dan gaya bahasa lainnya. 


7. Amanat merupakan sebuah pesan pesan yang terdapat dalam sebuah cerita, amanat ini dapat berupa pesan tersirat dan pesan tersurat, pesan tersurat telah diterangkan secara jelas dalam suatu cerita, sedangkan pesan tersirat ini tidak ditimbulkan oleh penulis karya sastra, tetapi setelah mengetahui cerita tersebut maka pembaca akan mendapatkan pesan tersirat di dalamnya. 


8. Sudut pandang merupakan suatu cara penulis dalam memposisikan dirinya dalam sebuah cerita. Banyak sekeli bentuk dari sudut pandang ini seperti sudut pandang orang pertaama, sudut pandang orang kedua, sudut pandang orang ketika, dan sudut pandang campuran. Semua sudut pandang ini mempunyai nilai dan keunikan tersendiri. 

Pada sudut pandang orang pertama tunggal, Penulis sebagai pelaku sekaligus narator yang menggunakan kata ganti “aku”, “saya”, atau “gue”. Dalam sudut pandang orang pertama tunggal, penulis biasanya berperan sebagai tokoh utama yang menjadi inti dalam keseluruhan cerita. 

Sudut pandang orang pertama jamak ini menggunakan kata ganti “kami” atau “kita”.

Pada sudut pandang orang kedua, penulis adalah narator yang sedang berbicara kepada kata ganti “kamu” dan menggambarkan apa yang dilakukan “kamu” atau “kau” atau “anda”. Pembaca diperlakukan sebagai pelaku utama sehingga membuatnya menjadi merasa dekat dengan cerita karena seolah menjadi tokoh utama.

Penulis ada di luar cerita tak terlibat dalam cerita dan juga menampilkan para tokoh dengan menyebut namanya atau kata ganti “dia”. 

Penulis menuturkan cerita berdasarkan persepsi atau kacamata kolektif. Penulis akan menyebut para tokohnya dengan menggunakan kata ganti orang ketiga jamak; “mereka”. Di dalam hal ini penulis sengaja untuk dapat mengangkat cerpen yang berjudul “Sepotong Senja Untuk Pacarku”. Sehingga membuat penulis untuk dapat menalaah dan mengangkat judul dari cerpen ini. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yakni dengan menggunakan teknik penyajian berupa penggambaran dalam bentuk kata-kata.


METODE

Menurut Mahmud Yunus “metode adalah jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang supaya sampai kepada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan perusahaan atau perniagaan, maupun dalam kupasan ilmu pengetahuan dan lainnya.” Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode mengandung arti adanya urutan kerja yang terencana dan sistematis guna mencapai tujuan yang direncanakan. (Armai. 2002. 87).

Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Sugiyono (2013, hlm. 3) menyatakan bahwa: Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmun, yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya, proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis. 

Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan filsafat positivisme. Metode ini sebagai metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu kongkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini juga disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. Sugiyono (2013, hlm. 14) mengatakan bahwa: Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistic dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. 

Berdasarkan pendapat diatas data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan tekhnik perhitungan matematika atau statistika. Data kuantitatif berfungsi untuk mengetahui jumlah atau besaran dari subjek yang diteliti.


HASIL DAN PEMBAHASAN 

1. Identitas Buku

Judul Novel: Tulisan Sastra

Penulis Novel: Tenderlova

Penerbit Novel: LovRinz Publishing

Kota Terbit: Cirebon, Jawa Barat

Tahun Terbit: 2020

Tebal Halaman: 303 halaman

ISBN: 978-623-289-095-4


2. Sinopsis Novel Tulisan Sastra

Sastra, berapa lama manusia mampu bertahan seorang diri dalam kegelapan?

Tertatih tanpa harapan, terkoyak atas takdir yang tak berperasaan.

Sastra, berapa lama manusia mampu melupakan luka yang tak berjejak tanpa suara?

Dirundung perih yang menyiksa, dihantam pilu yang menderu.

Seingatku, semalam aku menangisi tanpa suara. Hanya untuk mengenangmu yang kini entah berada di mana?

Sepekan, dua pekan, ke arah mana aku harus mengais jejakmu.

Ke arah mana agar aku mampu berlari memelukmu?

Sastra…

Kemana arah jalan untuk kembali menemukanmu?

"Sastra, kamu lupa tentang satu hal. Semakin singkat suatu cerita, semakin dalam luka yang tertoreh. Kehilangan memang akan terus terjadi. Tapi kalau boleh aku memilih, aku belum siap kehilangan kamu."

“Yang pergi biarlah pergi, yang tinggal sudah seharusnya dijaga. Kalau nggak ada yang abadi dalam bahagia, berarti nggak ada yang abadi juga dalam sedih.”

Kutipan yang tercetak jelas dalam sampul ini sedikit menjelaskan bagaimana isi cerita di dalamnya. Seperti yang Sastra bilang, hidup itu perihal menyambut dan kehilangan.

Buku yang berjudul Tulisan Sastra karya Tenderlova ini menceritakan tentang Sastra, si anak tengah dari keluarga Suyadi. Ia merupakan sosok yang humoris, sikapnya selalu membuat geleng kepala, juga dapat membuat tertawa. Sebut saja dia sebagai happy virus. Sastra mahir bergitar, ke mana pun ia pergi selalu membawa gitarnya. Tetapi ada impian yang ingin Sastra wujudkan, yaitu tampil di sebuah panggung besar dengan memainkan piano. Ya, mimpinya adalah menjadi seorang pianis.

Selain memiliki sifat humoris, Sastra juga dapat menjadi seorang yang romantis dan tragis. Pasalnya, Sahara, gadis yang sekarang ini berstatus menjadi kekasihnya. Ia hanya menjadikan Sastra sebagai tempat pelarian semata. Berbeda dengan Sastra yang menganggap Sahara adalah sosok spesial dan selalu menjadi sumber penyemangatnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Sahara perlahan-lahan mulai dapat menerima dan mencintai Sastra.

Ketika Sahara mulai jatuh cinta pada Sastra, kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Pada malam yang sepi, setelah mengantarkan Sahara pulang, hujan mengguyur jalanan, Sastra mengalami kecelakaan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sayangnya, karena kondisi tubuhnya semakin menurun, Sastra pun tidak bisa terselamatkan. Kepergiannya memberi luka yang mendalam bagi Sahara, keluarga Suyadi, dan teman-temannya. Bagi Sahara, mungkin ini adalah sebuah karma yang harus ia tanggung karena dulu telah menyia-nyiakan Sastra.


3. Unsur Instrinsik

Nama: Juliana Koto

Nim: 22016185


Hasil dari penelitian yang berupa analisis dari novel ”Tulisan Sastra” dengan menggunakan metode yang berupa deskriptif kualitatif. Maka dengan demikian dari hasil penelitian ini dapat menemukan hal-hal yang berupa unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat dalam cerita. Unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat dalam cerpen “Tulisan Sastra”:

Tema

Novel Tulisan Sastra ini mencerikan tentang kisah perjalanan hidup, mimpi dan cinta seorang anak tengah dari tujuh bersaudara yang bernama Andhika Sastra Gautama yang tragis pasalnya kekasih yang sangat dia cintai hanya menjadikan dia sebagai pelampiasan karena Sahara belum bisa melupakan mantan pacarnya Jeffery.

“Tadaaaa! Aku bikinin kamu sandwich. Kamu pasti suka.” Sasra tersenyum lebar, namun Sahara tidak pernah tahu kalau senyum itu tak pernah bermakna apa-apa. Sastra bahagia dengan kejutannya, tapi dalam hati Sastra berbisik, “Sahara, aku nggak bisa makan strawberry.” Bukan ia tidak pernah memberitahu Sahara kalau ia tidak makan buah merah tersebut. Rasanya Sastra sudah mengatakan berjuta-juta kali, tapi berjuta-juta kali pula Sahara tidak pernah mengingatnya. (hal 24)

Sastra memang laki-laki yang layak dicintai, tapi Sahara merasa, dia belum mampu menjadi orang itu. Sahara tau dia terlalu munafik untuk mengatakan cinta pada Sastra. Fakta bahwa Jeffery masih terikat dalam hatinya tak lantas hilang begitu saja. Sahara tidak pernah tahu, seberapa banyak Sastra mencintai ketoprak dan es teh. Yang Sahara tau, laki-laki itu akan memesan menu yang sama setiap kali mereka jalan berdua. (hal 68)

Selain bercerita tentang tragisnya kisah cinta Sastra, novel ini juga menceritakan sebuah keharmonisan dalam keluarga Suyadi. Sastra selalu menjadi pembangkit keceriaan dan kegembiraan di dalam keluarganya. 

Slepet!

“SASTRAAA!!!”

Suara gelegar tawa Bang Tama terdengar bersahut dengan suara teriakan Kak Ros. Tak Lama, suara tawa melengking Cetta juga ikut terdengar. Kehadiran Suyadi bersaudara di jalanan komplek malam itu praktiks menebas sepi. Sepanjang perjalanan pulang  dari masjid selepas sholat isya, Sastra tak henti-hentinya berbuat onar. Bang Tama sudah tidak mau ambil pusing. (hal 199)

Sastra bangkit dan mencium pipi Jovan hingga meninggalkan bekas merah disana. “SASTRAAAA!!!!” yang berhasil meledakkan tawa diantara mereka. Terlebih Bang Tama dan Cetta.(hal 161)

Amanat

Adapun pesan atau amanat yang dapat kita jadikan sebagai pelajaran dalam hidup ini adalah hargailah setiap orang yang ada bersama kita sekarang. Berikanlah perhatian kepada orang yang memberikan perhatian juga kepada kita. Jangan terpaku dengan masa lalu. Yang sudah berlalu memang seharusnya berlalu, tak akan bisa diulang bahkan untuk sedetik pun. 

“Sastra memang bersamanya hampir 3 tahun lamanya, tapi kenangan indah itu bahkan baru ia rangkai beberapa bulan belakangan. Sebelum itu, Sahara hanya melihat Sastra  sebagai bagian hidup yang tidak bermakna apa-apa. Sahara membiarkan laki-laki itu berjalan memasuki hidupnya semata-mata untuk melupakan Jeffery. Seandainya waktu bisa ia putar tepat di pertemuan pertama mereka, Sahara ingin melewati tiga tahun itu dengan bahagia dengan Sastra. Seandainya ia punya satu hari untuk itu.” (hal 246)

Pelajaran lain yang dapat kita ambil adalah bahwa setiap kehilangan pasti akan memberikan bekas luka yang mendalam bahkan sulit untuk disembuhkan. Sekedar melupakannya saja mungkin sangat sulit. Siapapun orangnya yang menemui kehilangan pasti memiliki kehidupan yang sulit, bahkan bisa jadi orang yang ditinggalkan sedang mengalami titik terendah dalam hidupnya.

“Ini bukan pertama kalinya Mama merasakan kehilangan. Tapi belum sembuh pedih yang Mama rasakan, kini Mama harus kehilangan lagi. Mama lupa tidak pernah menenyakan pada Sastra, apakah anaknya itu baik-baik saja atau tidak?. Andai ia bisa menggantikan Sastra…Mama selalu berpikir begitu. Dan kini, bagaimana caranya untuk mengatakan pada Sastra bahwa mama akan selalu menyayangi Sastra. Sampai kapan pun…” (hal 242)

“Tama tidak menduga, bahwa kepulangannya hanya untuk menguburkan Sastra di samping makam Bapak. Kini yang terasa hanya kekosongan sebab Sastra sudah pergi untuk selama-lamanya.”(hal 232)

“Eros tidak tahu harus bagaimana. Sejatinya, mengikhlaskan tidak secepat dan semudah yang diharapkan. Eros tentu sangat kehilangan. Sastra pergi terlalu mendadak. Dan kini, tidak ada yang bisa ia lakukan selain…berdoa.” (hal 239)

“Tiba-tiba Jovan dilanda rindu berat. Sastra itu adik yang paling menyebalkan selain Jaya. Dengan langkah gontai Jovan membuka pintu lemari. Hanya untuk membuat dadanya semakin sesak karena melihat baju-baju  Sastra yang menggantung disana. Ditinggal pemiliknya pergi untuk selama-lamanya” (hal 237)

“Tapi sayangnya, Nana juga tidak tahu. Bagaimana hari-harinya akan berlalu tanpa kehadiran Sastra.” (hal 230)

“Cetta belum benar-benar merelakan kepergian Sastra untuk selama-lamanya. Tapi, tidak peduli seberapa besar rasa sedih yang mendera dadanya….Cetta tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab katanya, takdir adalah takdir.” (hal 240)

“Nggak mau. Habis ini Jaya gak bisa peluk Abang lagi, Mas.” Jaya bukan hanya kehilangan seorang Kakak, tapi ia juga kehilangan seorang teman. Ia baru saja kehilangan salah satu tempatnya bersandar.” (hal 230)


Nama : Adinda Muthiara Putri

Nim : 22016001

Latar

Latar adalah gambaran tempat kejadian yang ada di dalam cerita atau karya sastra.

a. Latar Waktu

-Pagi

 "Jarang sekali Jaya bias bangun pagi-pagi, tapi hari ini dia bangun lebih awal." (Halaman 288) 

- Siang

"Siang itu langit nampak temaram, sebab mendung tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan." (Halaman 46) 

"Kelas kimia berakhir di rabu siang yang terik." ( halaman 62) 

"Saat itu langit membiru, cerah di sinari matahari menjelang sore saat anak-anak jurusan musik terlihat bergotong-royong."  

- Sore

"Setengah 3 sore, akhirnya anak-anak Pak Suyadi bisa terbebas dari hawa dingin kantor BK." (Halaman 60) 

"Sore itu, Sastra benar-benar menarik napas panjang saat Cetta berdiri di depan pintu berkedip menatapnya." (Halaman 119) 

- Malam

"Jam 9 teng, Sahara membuka pintu kamar kontrakannnya dengan sisa tenaga yang ia punya." (Halaman 43) 

 "Malam itu halaman rumah nampak ramai. Nana masih berusaha berlari kemana saja untuk menghindari kedua saudaranya." ( halaman 93) 

"Malam itu, tidak ada suara televisi seperti biasanya. Yang ada hanya sunyi." (halaman 123)

"Tengah malam, Sahara duduk termangu di ruang tengah kontrakannya. Menatap kosong jam tangan milik Sastra yang entah sejak kapan tertinggal disana." 


b. Latar tempat 

adalah latar tempat menunjukkan lokasi terjadinya suatu peristiwa. 

- Sekolah 

"Beberapa detik setelahnya, bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar hari itu berdering seantero sekolah. Di bangku paling pojok belakang, Cetta buru-buru mengemasi barang barangnya." ( halaman 62) 

- Kelas 

"Kelas masih kosong saat Sastra tiba di sana. Jelas, kan sudah dibilang kalau dia sengaja datang lebih awal." ( halaman 21) 

- Teras rumah 

 "Hal yang sama seperti yang pernah di katakan Bapak di suatu sore di teras rumah." (Halaman 14) 

- Klinik 

"Dugaan Eros sejak awal ternyata terbukti. Dokter bilang kalau Sastra terkena radang." (Halaman 40) 

- Depan pintu cafe 

"Mereka bertemu di depan pintu cafe tanpa di sengaja dan sekarang teknisnya mereka seperti datang berdua." ( halaman 96) 

- Kontrakan Sahara 

"Sesampainya di kontakan Sahara, gerimis perlahan-lahan berubah menjadi hujan." (Halaman 228) 

-Jalan lalu lintas 

"Bahkan saat lampu traffic menyala hijau, dunia seakan-akan merestui segenap perasaannya pada Sahara kasihku." (Halaman 229) 

- Ruang Icu Rumah Sakit 

"Ruang ICU tertutup rapat. Pintunya yang kokoh seakan-akan menjadi pembatas antara dua dunia." (Halaman 244) 


C. Latar suasana

Latar suasana adalah salah satu macam-macam latar cerita yang menunjukkan bagaimana kondisi batin tokoh atau pelaku di dalam cerita. 

- Sedih 

"Seandainya Sastra tahu bahwa itu memang kesempatan terakhirnya duduk berdua bersama Bapak, Sastra akan membiarkan dirinya duduk di sana lebih lama. "

"Seandainya waktu bisa ia putar tepat di pertemuan pertama mereka, Sahara ingin melewati tiga tahun itu dengan bahagia bersama Sastra."(hal 246)

"Rasanya Jovan sudah tidak sanggup lagi menahan semua sedih yang ia tutup-tutupi. Kini, ia membiarkan lututnya beradu dengan lantai yang dingin. Disertai tangis nanar yang mampu didengar orang-orang di rumah. Nadanya teramat pilu. Menggambarkan sekali bahwa Jovan begitu kehilangan sosok Sastra." (hal 237)

-Senang 

"Laki-laki itu melenggang dengan langkah ringan sambil bersiul-siul." (Halaman 19) 

- Menegangkan 

"Kedua matanya melayangkan kebencian yang kentara. Seandainya tatapan Jef dan Sastra adalah pucuk belati yang beracun, mungkin keduanya sudah tewas sejak bermenit-menit yang lalu." (Halaman 106) 

- Menegangkan dan sedih 

"Mama menurut untuk duduk dalam kegamangan. Sementara genggaman tangan Jovan seakan akan berbisik, bahwa mereka harus menerima atas segala hal buruk yang mungkin saja terjadi." (hal 220)


Sudut Pandang

Sudut pandang dalam novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. 

"Kali ini Sastra tidak ingin menimpali kata-kata Eros. Sebab semakin panjang Eros menceramahinya, semakin ia merasa bahwa apa yang ia lakukan memang salah dan kata-kata Eros seratus persen benar. Setelah tindakannya tadi, Jeffery pasti langsung menyusun siasat untuk balas dendam dengannya." (Hlm 124) 

"Bu Nia tergagap seketika. Tanpa pikir panjang perempuan berjilbab krem itu berlari menuju tempat yang di sebutkan oleh Jaya." ( hlm 63) 

"Cetta langsung meringis saat Karina menyentuhkan jemarinya pada ujung mata Cetta yang masih membiru." (Hlm 63) 


Nama: Dhea Wardani

Nim: 22016173

Tokoh 

1) Andhika Sastra Gautama

2) Oktavia Sahara Dewi

3) Adhitama Abelvan

4) Eros Bratadikara Nayaka

5) Jovan Akhal Raksi

6) Adinata Ailen Caesar

7) Adelardo Cetta Early

8) Kin Dhananjaya

9) Jeffery


Penokohan 

Penokohan adalah penyajian watak-watak tokoh dalam cerita tersebut.

a. Tokoh Protagonis adalah tokoh baik dalam novel.

1. Andhika Sastra Gautama

Periang 

Dalam hatinya bernyanyi riang, kontras dengan suara gemuruh yang melenggar sejak subuh tadi (halaman 19)

Tidak tega

Sastra bukan tipikal laki-laki yang akan membiarkan seorang tersakiti dan menangis. (halaman 21)

Penyayang

Sastra hanya menunduk, sibuk mengusap-usap lengan Sahara. Sementara wajahnya sendiri sendiri juga bonyok. (halaman 110)

Emosional

Sastra yang melihat bagaimana Sahara meringis saat Jefery menarik lengannya, darah rendah Sastra langsung berubah jadi darah tinggi. (halaman 105)

1. Sahara

Mudah Menangis

Sahara menangis malam itu, kecewa dengan dirinya sendiri.

"Sastra, maafin aku...." Di tengah tangis pilunya malam itu. (halaman 45)

Peduli

Sahara betulan khawatir. Bagaimanapun juga Sastra pacarnya, dan dia tidak punya alasan untuk tidak pedul dan cemas pada laki-laki itu. (halaman 31)

Menghargai perasaan orang lain 

Karena ia pikir, seandainya Sastra tahu kalau dia bersama Jef pada saat itu, Sastra pasti bakalan sedih. (halaman 44)

3. Adhitama Abelvan

Bijaksana

"Laki-laki itu harus punya rasa tanggung jawab. Bahkan dari hal yang paling sepele-ngehabisin makanan yang sudah kita taruh di piring. Bilang maaf juga kalau kita punya salah. Bukan karena yang paling besar, lantas akan selalu benar. Ya minimal, tanggung jawab sama diri sendiri." (halaman 149)

4. Eros Bratadikara Nayaka

Bijaksana

"Kalian apa ngga kasian sama Mama? Lihat sekarang, vertigonya kambuh lagi gara-gara Sastra berantem. Kakak ngga masalah kalian jago bela diri, justru itu bagus. Tapi manfaatkan sesuai tempatnya. Jangan disalahgunakan buat bonyokin anak orang cuma gara-gara kekesalan kalian." (halaman 125)

5. Jovan

Peduli

Mas Jovan emang sesat. Tapi sesesat apapun Mas Jovan. Sastra tahu, Mas Jovan selalu peduli dengannya. (halaman 36)

       b. Tokoh Antagonis adalah tokoh jahat dalam novel.

1. Jefery

Pemaksa

".... Aku tahu kamu masih simpan semua foto-foto kita, bahkan aku juga tahu kalau diam-diam kamu masih stalk aku. Sahara, aku tahu semuanya. Jadi, please..... kasih aku kesempatan buat.." (halaman 104)

Pedendam

Dan Jef berlalu begitu saja setelah meninggalkan peringatan yang malah terdengar seperti lelucon di telinga Sastra. (halaman 108) 

Tengil

"Kalau lo kalah, cewek lo buat gua, gimana?" Ucap Jefery.

Sahara berhasil di buat tak percaya dengan penawaran Jef. (halaman 106)


Nama : Anggia Affanza

Nim : 22016085

Peranan alur sangat penting karena alur adalah struktur rangkaian peristiwa yang menggerakkan jalan cerita. 

Novel “Tulisan Sastra”menggunakan Alur cerita maju

Alur cerita maju menampilkan peristiwa secara runtut mulai dari awal, tengah sampai akhir.

a. Orientasi adalah pengenalan tokoh-tokoh cerita serta perwatakan, latar, dan lain sebagainya.

Andhika Sastra Gautama punya alasan kenapa dia tidak begitu suka hujan karena hujan selalu identik dengan kegalauan (Hal 1).

 Sastra terlahir di keluarga sederhana. Dia anak ke empat dari tujuh bersaudara. Rame? Iya, rame banget. Mama dan Bapaknya memang penganut sekte banyak anak banyak rezeki. Anak pertama dari keluarga Pak Suyadi adalah Adhitama Abelvan, yang kedua Eros Bratadikara, yang ketiga Jovan Akhal Raksi, yang ke empat Andhika Sastra Gautama, yang kelima Adinata Ailen Caesar, yang ke enam Adelardo Cetta Early, dan yang terakhir Kin Dhanjaya (Hal 2-6) dan Sastra ini memiliki pacar yang bernama Sahara yang sudah ia pacari selama dua tahun. Dan ada seseorang yang ingin sekali balikan kepada Sahara yaitu Jeffery . 


b. Komplikasi adalah pembaca diajak masuk pada pengenalan konflik. Dalam tahap ini, terjadi konflik yang merupakan bumbu agar cerita lebih menarik. Konflik-konflik ini melibatkan semua tokoh dan pada tahap ini pula pembaca akan mengenal alur dari cerita yang dibuat.

Kali ini Sahara yang tidak mau menjadi bodoh untuk kedua kalinya. Cukup sekali saja dia di butakan oleh perasaanya terhadap Jeffery. Jadi sebelum ada lebih banyak orang yang melihatnya berdua dengan laki-laki itu, Sahara berusaha melepaskan genggaman pada lengannya. Satu hal yang sebenarnya sia-sia. Semakin kuat usaha Sahara untuk melepaskannya, semakin erat pula Jef menahannya (Hal 99). 

Setelah itu Sastra yang melihat bagaimana Sahara meringis saat Jeffery menarik lengannya darah rendah Sastra langsung berubah jadi darah tinggi. Lalu Sastra berlari kecil lalu menendang sosok Jeffery sampai jatuh tersungkur (Hal 104-105). 

Melihat gaya sengak Jef, Sastra sudah mengambil ancang-ancang untuk menjotos Jef lagi. Tapi Sahara lebih dulu memeluk punggungnya, dan Jef berlalu begitu saja setelah meninggalkan peringatan yang malah terdengar seperti lelucon di telinga Sastra (Hal 108). 


c. Klimaks adalah tahapan puncak dari konflik yang ada. Tahapan ini adalah tahap puncak dari ketegangan yang terjadi mulai dari awal cerita.

Tidak sampai sepuluh detik, mobil itu berhasil menghantam motor sekaligus tubuh Sastra. Entah bagaimana kejadian persisnya, tapi Sastra hanya merasa tubuhnya seperti mati rasa. Sementara di balik kemudi, Jeffery hanya mampu menatap kaku sosok Sastra yang bersimbah darah di tengah jalan yang sepi. Jef sebenarnya tidak sengaja menabraknya, demi Tuhan ia berani bersumpah! Tapi berulang kali ia pikir, tidak ada yang berani ia lakukan (halaman 229). 

Jef memberhentikan mobilnya di sebuah pelataran kos-kosan dua lantai dengan tubuh menggigil dan Jefery pun 9 langsung menghampiri ke teman di kosannya, lalu Jeffery menceritakan bahwa dia tidak sengaja menabrak orang. Temannya yang mendengar ceritanya langsung kesal dan menghampiri ke tempat kejadian bersama Jeffery. Sehabis di tempat kejadian ternyata hanya ada darah yang masih segar sedang mengalir dan teman Jeffery pun langsung mengantarkan Jefery ke kantor Polisi. (halaman 231-235).

Resolusi adalah pemecahan masalah, tahap ini menunjukan jalan keluar dari setiap konflik yang ada. Teka-teki pada setiap konflik yang terjadi pada awal cerita akan terungkap dalam tahap ini. Seringkali, perwatakan yang asli dari setiap tokoh akan muncul pada tahapan ini.Butuh dua menit delapan belas detik bagi Sahara untuk percaya bahwa apa yang di lihatnya saat ini adalah kenyataan, ada bang Tama, kak Ros, Jovan, Nana dan Mama di sana. Ke empat laki - laki itu memalingkan wajah saat seorang laki-laki yang Sahara kenal menangis dan bersimpati di kaki Mama. Di saat itu Sahara hanya melihat seorang Jeffery yang terlihat cukup menyedihkan dan Jeffery pun sangat menyesal atas perbuatannya. (halaman 306- 308).


4. Unsur Ekstrinsik

1. Nilai Sosial 

Nilai sosial adalah nilai dalam cerpen/novel yang berhubungan dengan masalah sosial dan hubungan manusia dengan masyarakat (interaksi sosial antar-manusia).  

- Jangan menyelesaikan masalah dengan memakai kekerasan

“Apa semua masalah harus diselesaikan dengan cara kekerasan?. Mengalah ngga akan bikin kamu jadi pengecut, Sastra. Kekerasan bukan cuma bikin orang lain rugi, tapi kamu juga.” (halaman 124) 

2. Nilai Religius

Nilai religius adalah nilai dalam cerpen/novel yang berhubungan dengan kepercayaan atau ajaran agama tertentu. 

a. Nilai keagamaan adalah gabungan dari beberapa sistem sosial yang mengatur tata perilaku, kepercayaan, kaidah sosial dalam menjalani beragam contoh hubungan sosial antara sesama mahluk ciptaan-Nya, serta tata cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

"Sejak dini, anak-anak Mama selalu diajarkan untuk menghormati orang-orang yang lebih tua. Cara sederhananya seperti ini. Tidak peduli meskipun mereka laki-laki dan usianya sudah bukan lagi anak-anak, kalau mau pergi wajib hukumnya cium tangan." (halaman 18) 

b. Nilai Moral adalah nilai dalam cerpen/novel yang berhubungan dengan perangai, budi pekerti, atau tingkah laku manusia terhadap sesamanya. 

- Jadi diri sendiri 

“Kalau suatu saat kamu bisa jadi dokter, Alhamdulillah. Berarti itu rejeki kamu. Tapi kalau kamu ngga bisa jadi dokter, kamu bisa jadi orang hebat dengan cara kamu sendiri. Jadi orang hebat itu ngga selalu harus ‘wah’, cukup jadi diri kamu sendiri, itu sudah hebat. (halaman 142) 

- Berani berkata jujur

"Jangan takut untuk speak up jika kamu merasa kamu perlu membicarakan itu. Kebenaran selamanya akan menjadi kebenaran. Soal menang atau kalah, itu urusan belakang. Hal terpenting adalah, kamu berani berkata jujur. Sekalipun kamu kalah, pada kenyataannya kamu menang." (halaman 59) 

- Menghormati orang tua  

"Cetta yang semula sudah melenggang ke arah pintu praktis putar balik. Dia menyengir pada Sastra yang sudah geleng-geleng kepala. “Hehe, lupa” katanya, lantas menyalami Sastra sama halnya dengan yang ia lakukan pada Mama." (halaman 18)



KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Struktur dari novel Tulisan Sastra adalah : (A) Tema novel ini bertema tentang percintaan. Namun terdapat pula subsub tema, seperti kekeluargaan dan persahabatan. (B) Penokohan cerpen ini terdiri dari beberapa tokoh yang membangun cerita. Terdapat sembilan tokoh yang ditampilkan. Tokoh tersebut terdiri dari tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama dalam novel ini adalah Sastra dan Sahara sedangkan tokoh tambahannya adalah Tama, Eros, Jovan, Adinta, Cetta, Jaya, Jeffery, Mama. Penokohan dalam cerpen ini diceritakan begitu lengkap, detail, dan menyeluruh sehingga karakter yang ditampilkan begitu kuat dan utuh. (C) Latar / Setting Latar dalam novel Tulisan Sastra dibagi menjadi 1) Latar Tempat Terdapat beberapa tempat yang menjadi latarnya, antara lain : sekolah, teras rumah, kelas, klinik, depan pintu café, kontrakan sahara, jalan lalu lintas, ruang icu rumah sakit. 2) Latar Waktu Penggambaran waktu yang dipakai dalam novel ini berupa pagi, siang, sore, malam. 3) Latar Suasana yang dipakai adalah sedih, senang, dan menegangkan. (D) Alur yang digunakan adalah alur maju mundur. (E) Amanat yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi pembaca adalah hargailah setiap orang yang ada bersama kita sekarang. Berikanlah perhatian kepada orang yang memberikan perhatian juga kepada kita. Jangan terpaku dengan masa lalu. Yang sudah berlalu memang seharusnya berlalu, tak akan bisa diulang bahkan untuk sedetik pun. Dan juga setiap kehilangan pasti akan memberikan bekas luka yang mendalam bahkan sulit untuk disembuhkan. Sekedar melupakannya saja mungkin sangat sulit. Siapapun orangnya yang menemui kehilangan pasti memiliki kehidupan yang sulit, bahkan bisa jadi orang yang ditinggalkan sedang mengalami titik terendah dalam hidupnya.





DAFTAR PUSTAKA

Suaka, Nyoman. 2014. Analisi Sastra Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Sehandi ,Yohanes. 2014. Mengenal 25 Teori Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak 

Armai Arief. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers

https://katacika.blogspot.com/2020/12/review-buku-tulisan-sastra-by-tenderlova.html

https://www.lpmunsika.com/resensi-novel-tulisan-sastra-hidup-perihal-menyambut-dan-kehilangan/

https://fliphtml5.com/ieueu/qbvk/basic

https://www.wattpad.com/806533423


Komentar