Hakikat dan Kaitan Teori, Kritik, dan Sejarah Sastra

HAKIKAT DAN KAITAN TEORI, KRITIK, DAN SEJARAH SASTRA


Dosen Pengampu : Dr.Abdurahman, M.Pd.

Nama : Juliana Koto

Nim   : 22016185

Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia


A. TEORI SASTRA

Teori sastra merupakan salah satu cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang  prinsip, hukum, kategori, serta kriteria sebuah karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejalagejala yang diamati. Teori berisi konsep/uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu.

Menurut Jan Van Luxemburg dan teman-teman pada tahun 1986, mengungkapkan bahwa ilmu sastra adalah suatu ilmu yang mempelajari mengenai teks-teks sastra secara sistematis sesuai dengan fungsi yang ada di dalam masyarakat. Tugas ilmu sastra adalah meneliti dan merumuskan sastra secara umum dan sistematis, sementara teori sastra bertugas untuk merumuskan kaidah dan konvensi kesusastraan secara umum.

Sejalan dengan perkembangan karya sastra, maka teori sastra juga turut berkembang dengan kerangka tertentu. Setiap teori memiliki asumsi dan tujuan yang sama yakni mengungkap makna yang ada di dalam sebuah karya sastra. Hingga saat ini, teori sastra telah berkembang menjadi beberapa, yakni teori strukturalisme, teori psikologi sastra, teori sosiologi sastra, teori semiotika, dan teori hermeneutika.


B. KRITIK SASTRA

Kritik sastra adalah salah satu cabang ilmu sastra sebagai menghakimi suatu karya sastra. Kritik sastra mencakup penilaian guna memberi keputusan bernilai atau tidaknya suatu karya sastra. Kritik sastra kebanyakan dihasilkan oleh kritikus sastra. Kritik sastra memungkinkan suatu karya dapat dianalisis, diklasifikasi dan akhirnya dinilai .Seorang kritikus sastra mengurai pemikiran, paham-paham, filsafat, pandangan hidup yang terdapat dalam suatu karya sastra. Sebuah kritik sastra yang baik harus menyertakan alasan-alasan dan bukti-bukti baik langsung maupun tidak langsung dalam penilaiannya.

 

C. SEJARAH SASTRA

Sejarah sastra merupakan cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang sejarah berdirinya sastra mulai awal sampai 3 pada masa perkembangannya saat ini. Sejarah sastra merupakan bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. Sebagai suatu kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarawan sastra harus mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik.


HUBUNGAN TEORI SASTRA, KRITIK SASTRA, DAN SEJARAH SASTRA


1) TEORI SASTRA DAN KRITIK SASTRA

Teori sastra adalah teori yang mempelajari kaidah-kaidah, hukum, kategori, Kriteria yang menyangkut aspek-aspek dasar dalam teks sastra dan bagaimana teks tersebut bekerja dalam masyarakat . Aspek-aspek dasar yang terdapat dalam teks berupa aspek intrinsik dan aspek ekstrinsik yang menyatu dalam membangun karya sastra menjadi suatu yang utuh. Aspek karya sastra meliputi konvensi bahasa sebagai sarana sastra, konvensi budaya, dan konvensi sastra itu sendiri. Sedang aspek ekstrinsik berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi timbulnya karya sastra, seperti unsur budaya, aliran, psikologi, filsafat, agama , dan politik. Pada hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di dalam karya sastra baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya, struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, dan unsur luar lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Teori sastra memberikan gambaran keutuhan karya sastra dari berbagai segi yang membedakannya dengan karya nonsastra.

Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, memberi penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Kritik diberikan untuk memberikan masukan kepada penulisnya tentang kondisi karya yang dihasilkannya dengan harapan akan menjadi bahan masukan untuk perbaikan selanjutnya. Dengan kata lain, sasaran kritikus sastra adalah penulis atau penghasil karya sastra. Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra dari sudut keunggulan atau karya sastra kritikus tidak bersifat subjektif. Dia harus bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi sastra yang melingkupi karya sastra. Dia bekerja berdasarkan teorisastra yang menjadi landasannya dalam memberikan penilaian terhadap karya yang ditelitinya. Dalam hal ini teori sastra merupakan sumber rujukan kritikus sastra sehingga kritik sastranya bermakna bagi penulisnya.


2) TEORI SASTRA DAN SEJARAH SASTRA

Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa. Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada periode-periode tertentu. Secara keseluruhan dalam pengkajian karya sastra, antara teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra terjalin keterkaitan.


3) KRITIK SASTRA DAN SEJARAH SASTRA

Dalam kritik sastra seorang kritikus memberikan pertimbangan kepada penulisnya dengan menggunakan kaidah-kaidah, hukum, kriteria sastra menjadi landasannya dalam memberikan penilaian terhadap karya. Meskipun kritik sastra bersifat subjektif, tetapi kesubjektifannya berada pada koridor sistem sastra. Di sisi lain, perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada masa-masa tertentu. Hb. Yasin, misalnya memunculkan Angkatan 66 karena tema-tema puisi atau prosa hasil karya penulis atau pengarang pada masa itu berbeda dengan tema-tema pada masa Angkatan 45. Korrie Layun Rampan mengemukan pergeseran wawasan estetik para pengarang menyebabkan munculnya perubahan sastra.


JENIS-JENIS TEORI SASTRA

1. Teori Struktural

Teori struktural adalah teori sastra yang digunakan dalam menganalisis sebuah karya sastra berdasarkan pada strukturnya. Teori ini memandang sebuah karya sastra sebagai suatu hal yang berdiri sendiri dan terlepas dari penyusun maupun pembacanya. 

2. Teori Psikologi Sastra

Teori psikologi sastra digunakan dalam menganalisis unsur kejiwaan atau batiniah dari sebuah karya sastra atau menganalisis karya sastra berdasarkan pada sudut pandang psikologi. Menurut Hardjana (1991:60), fungsi psikologi dalam karya sastra adalah untuk menyelami atau menjelajahi batin tokoh-tokoh yang terdapat dalam karya sastra guna mengetahui lebih jauh mengenai seluk beluk dari tindakan manusia dan juga responnya atas tindakan lainnya.

3. Teori Kepribadian Abdul Aziz Ahyadi

Teori kepribadian digunakan untuk menganalisis aspek kepribadian dalam sebuah karya sastra, baik itu kepribadian tokoh-tokohnya maupun kepribadian sistem sosial kemasyarakatan yang dibahas dalam karya sastra.

4. Teori Sosiologi Sastra

Teori ini digunakan untuk menganalisis sebuah karya sastra dengan berdasarkan pada segi kemasyarakatan. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa seorang pengarah adalah bagian dari sebuah masyarakat yang ia berinteraksi dengan mereka.

5. Teori Sastra Feminis

Teori sastra feminis memiliki pandangan bahwa karya sastra adalah cerminan dari realitas sosial yang patriarki. Tujuannya adalah untuk mengungkap adanya anggapan patriarki yang tersirat dalam sebuah karya sastra melalui citra perempuan yang digambarkan di dalamnya.

6. Resepsi Sastra

Resepsi sastra merupakan kualitas keindahan yang muncul sebagai akibat dari adanya hubungan antara karya sastra dengan pembaca karya tersebut. Teori ini mengkaji mengenai hubungan antara karya sastra dengan resepsi atau penerimaan pembaca terhadapnya. Menurut teori ini, makna dari sebuah karya sastra hanya dapat dipahami dari melihat efek atau dampak yang ditimbulkan oleh karya sastra tersebut terhadap pembacanya.

7. Teori Marxis

Diantara ideologi utama yang berkembang di dunia adalah ideologi Marxisme. Diantara pandangan ideologi ini adalah kepercayaan bahwasanya sosio ekonomi adalah penentu dari suatu kehidupan. Dalam kaitannya dengan sastra, teori ini menekankan adanya keterkaitan antara sosio ekonomi, sejarah, dan budaya sehingga sebuah karya sastra akan senantiasa dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi masyarakat.

8. Teori Sastra Poskolonial

Teori sastra poskolonial adalah seperangkat teori yang mengkaji karya sastra berkaitan dengan praktik kolonialisme dan imperialisme. Teori ini menganggap bahwa sebuah karya sastra memiliki kemampuan untuk membentuk sebuah hegemoni kekuasaan dan juga sebaliknya bisa menjadi kekuatan untuk melawan hegemoni tersebut.

9. Teori Stilistika

Teori stilistika dalam karya sastra adala teori yang mengkaji tentang penggunaan gaya bahasa dalam sebuah karya sastra. Teori ini berdasarkan pada pandangan bahwasanya sastra sendiri memiliki keindahan bahasa dan juga makna atau pesan yang ada di dalamnya.

10. Teori Semiotik

Menurut Hoed (1992:2), semiotik adalah ilmu yang menganalisis atau mengkaji mengenai tanda. Teori semiotik menganggap bahwa bahasa adalah merupakan sebuat sistem tanda yang mewakili makna tertentu. Teori ini mengkaji karya sastra dari sisi tanda-tanda atau lambang yang ada dalam bahasa yang digunakan dalam sebuah karya sastra.


JENIS JENIS KRITIK SASTRA

A. Kritik Sastra Berdasarkan Bentuk

Berdasarkan betuknya, Abrams (1981) membagi kritik sastrai menjadi kritik teoritik dan kritik praktikal. 

Kritik teoritik adalah jenis kritik sastra yang berusaha menetapkan istilah-istilah dan kategori-kategori yang akan digunakan dalam menganalisis dan menafsirkan karya sastra. Artinya kritik teoritik belum berbicara tentang suatu karya sastra yang konkret. 

Kritik praktikal adalah kritik terhadap suatu karya sastra yang sudah konkret menggunakan konsep-konsep yang ditetapkan dalam kritik teoritik sebelumnya. 


B. Kritik Sastra Berdasarkan Pelaksanaan 

Berdasarkan pelaksanaannya, kritik sastra dibagi menjadi kritik judisial, kritik impresionistik, dan kritik induktif.

Kritik judisial adalah kritik terhadap suatu karya dengan membandingkan karya tersebut dengan karya lain yang secara konvensional dianggap sebagai standar umum kehebatan dan keindahan sastra. 

Kritik impresionistik adalah kritik yang mengungkapkan kesan-kesan dari kritikus terhadap sebuah karya sastra tertentu dan memaparkan tafsiran mereka. 

Kritik induktif adalah analisis sebuah karya sastra berdasarkan fenomena yang terjadi dalam karya tersebut secara objektif, baik dari segi isi, ide, maupun segi kebahasaan melalui teori sastra. 


C. Kritik Sastra Berdasarkan Orientasi 

Berdasarkan orientasinya, kritik sastra dibagi menjadi kritik mimetik, kritik pragmatik, kritik ekspresif, dan kritik objektif. 

Kritik mimetik merupakan kritik yang berfokus kepada hubungan karya sastra dengan realita atau kenyataan. 

Kritik pragmatik adalah kritik yang berfokus pada tanggapan pembaca dan dampak karya sastra tersebut kepada pembaca. 

Kritik ekspresif adalah kritik yang berfokus kepada pengarang/penyair yang mengekspresikan perasaannya terhadap karya tersebut dikaitkan dengan latar belakang dari pengarang itu sendiri. Kritik objektif adalah kritik yang berfokus pada karya itu sendiri atau analisis secara unsur intrinsik saja.


MANFAAT TEORI SASTRA, KRITIK SASTRA, DAN SEJARAH SASTRA

1. MANFAAT TEORI SASTRA

Membuka sudut pandang dan pikiran dengan wawasan yang luas.

Serasa hidup di setian zaman.

Membangun kemampuan berpikir kritis dan menghargai perbedaan.

Meningkatkan kemampuan membaca sekaligus menulis.

Lebih peka dengan persoalan kemanusiaan.


2. MANFAAT KRITIK SASTRA

kegiatan kritik sastra akan memberikan wawasan tambahan bagi penulis. Karena penulis ataupun seorang kritikus sastra akan mengasah lagi teknik bersastra dengan tema-tema serta tulisan yang berbeda dari setiap karya sastra yang memiliki ciri khas masing-masing.

Kritik sastra dapat menumbuhkan motivasi seseorang untuk menulis. 

Menghasilkan karya yang lebih baik lagi. 

Kegiatan kritik sastra dapat meningkatkan kualitas tulisan. 

Dengan melakukan kegiatan kritik sastra dapat menjembatani antara pembaca dengan karya sastra. 

Kritik sastra juga dapat meningkatkan kemampuan mengapresiasi karya sastra.

Melalui proses kritik sastra dapat membantu pembaca dalam menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra yang secara tesembunyi dituliskan oleh penulis atau penyair.


3. MANFAAT SEJARAH SASTRA

Manfaat mempelajari sejarah sastra ialah dapat memperluas wawasan dan pengetahuan dalam bidang bahasa dan sastra, melestarikan jati diri bangsa Indonesia, mengetahui perkembangan sastra dari masa ke masa, mengetahui persamaan dan perbedaan antara karya sastra lama dengan yang baru.






SUMBER

http://repository.ikippgribojonegoro.ac.id/1875/1/9.%20Teori%20Sastra-compressed.pdf

https://haloedukasi.com/macam-macam-teori-sastra

https://tirto.id/jenis-jenis-kritik-sastra-berdasarkan-bentuk-hingga-orientasi-gu2J

https://www.idntimes.com/life/education/amp/yulia/bosan-dan-tidak-suka-membaca-ini-5-manfaat-mempelajari-sastra-c1c2?page=all#page-2

https://www.indonesiastudents.com/manfaat-kritik-sastra/







Komentar