PENGANTAR PENGKAJIAN KESUSASTRAAN
Dosen Pengampu : Dr. Abdurahman, M.Pd.
Nama : Juliana Koto
Nim : 22016185
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
ANALISIS UNSUR INSTRINSIK NOVEL KARYA TERE LIYE
“ DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN”
1. Identitas Buku
Judul : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : Juni 2010
Jumlah halaman : 264 Halaman
2. Sinopsis
Buku ini menceritakan tentang gadis berumur 12 tahun bernama Tania. Gadis kecil yang harus putus sekolah dan mengamen bersama adiknya sepanjang hari setelah 3 tahun lalu ayahnya pergi untuk selamanya. Tania, Dede (adiknya), dan ibunya tinggal di sebuah rumah kardus di pinggir kota akibat kesulitan ekonomi. Sampai akhirnya mereka bertemu dengan seorang malaikat.
Siapa yang tidak senang bertemu dengan malaikat? Jelas ini adalah sebuah cahaya masa depan bagi Tania. Danar namanya. Danar bagai malaikat di kehidupan Tania dan keluarganya yang serba kekurangan. Pertemuan yang tidak disengaja antara mereka di suatu malam membawa cahaya indah bagi kehidupan Tania kedepannya. Perbedaan umur yang berjarak 14 tahun membuat Tania seperti bertemu dengan sosok kakak yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
Danar menjanjikan masa depan yang bercahaya. Danar membiayai Tania dan Dede untuk kembali sekolah. Memberikan modal ibu untuk membuat usaha kue. Danar membawa kebahagiaan yang selama ini hilang dari kehidupan Tania dan keluarganya. Danar membawa mereka ke toko buku terbesar kota kala itu. Toko buku yang menjadi tempat favorit Tania hingga saat dirinya bertumbuh dewasa.
Tania tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan malaikatnya. Tania menjadi siswi terpintar di sekolah. Semua berjalan baik dalam kurun waktu satu tahun. Mereka sudah tidak tinggal dirumah kardus, sudah pindah ke sebuah kontrakan. Tania menikmati setiap waktu ia bersama Danar. Kebahagiaan yang entah apa Tania tidak mengerti, perasaan yang bagi seorang anak berusia tiga belas tahun yang masih berkepang dua tidak akan mengerti perasaan bahagia apa itu.
Namun kebahagian itu tidak berjalan lama. Ini lah bagian yang paling menguras emosi, ketika ibu meninggalkan Tania dan Dede selamanya satu setengah tahun kemudian. Pukulan berat bagi Tania yang saat itu masih berumur tiga belas tahun dan saat-saat menuju kelulusan sekolah dasar. Saat dimana Dede masih belum mengerti semua kejadian tersebut. Saat Danar merangkulnya pada acara pemakaman ibu hari itu. Namun Tania sadar hidup harus terus berjalan. Tania diterima di salah satu SMP di Singapore dan memutuskan untuk melanjutkan sekolah disana, demi membanggakan ibu dan malaikatnya.
Tania memberikan pelajaran pentingnya sebuah pendidikan. Tania tumbuh menjadi gadis yang cerdas, lulus SMP dengan predikat terbaik nomor 2 dan mendapatkan beasiswa lanjutan untuk SMA di Singapore. Tania menjadi gadis dewasa dengan cepat, persis seperti keinginan Danar. Dan perlahan mengerti perasaan berbunga-bunga saat memikirkan seseorang serta perasaan rindu tersebut.
Tania semakin tumbuh dan semakin mengerti perasaannya. Danar bukan lagi hanya sebagai malaikat. Danar punya sisi tersendiri dalam hati Tania. Tania tidak boleh membiarkan perasaannya terus mekar. Takdir telah ditentukan oleh Tuhan dan manusia hanya bisa menerima seperti daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Perasaan Tania berakhir ketika Danar mengumumkan dirinya akan segera menikah dengan seorang perempuan bernama Ratna. Buku ini dengan baik menyajikan perasaan-perasaan yang menguras emosi dan tisu kamar para pembaca. Buku ini menyimpan banyak rahasia mengenai perasaan antara Tania dan Danar di setiap bagiannya.
Novel ini menceritakan kehidupan Tania, Dede (adiknya), Danar, dan perasaan Tania yang tumbuh kepada malaikatnya. Menceritakan Tania yang melanjutkan kehidupan sebagai gadis pintar di negeri orang, gadis yang membanggakan ibunya di sana dan malaikatnya. Menceritakan Tania dan segala prestasinya yang membanggakan. Menceritakan bagaimana Tania memandang lain Danar selain sebagai malaikat di hidupnya. Menceritakan bagaimana Tania yang menempati janji ibunya dan usaha Tania untuk merelakan. Selain itu di akhir cerita juga menjelaskan segala teka-teki mengenai perasaan Tania dan Danar selama ini.
3. Unsur Instrinsik
a) Tema
Novel ini bertemakan bahwa cinta tak harus memiliki seperti yang dikutip dalam “Cinta tak harus memiliki. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini.” (hal.256)
Novel ini juga bercerita tentang lika-liku kehidupan seorang gadis bernama Tania dan caranya ikhlas dalam menerima takdir Tuhan. Seperti dalam kutipan : Ketahuilah, Tania dan Dede... Daun yang jatuh tak pernah membenci angin... Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya...”(hal.63)
b) Tokoh dan Penokohan
1. Tokoh
Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel ini adalah :
• Tania(Tokoh Aku)
• Oom Danar
• Dede
• Ratna
2. Penokohan
1) Tania (Tokoh Aku)
Tania adalah seorang gadis yang cerdas, cantik, dewasa, bertanggung jawab, menepati janji, tulus, setia, membanggakan, dan berlapang dada. Selain itu, Tania juga seorang yang menyayangi keluarganya, terutama adik dan ibunya. Ia rela mengorbankan sekolahnya demi membantu sang ibu mengumpulkan pundi uang untuk kelangsungan hidup mereka.
Cerdas
“Setelah berjuang habis-habisan di ujian terakhir, akhirnya aku berhasil melampaui 0,1 digit si nomor satu selalu. Tipis sekali. Aku mendapatkan peringkat terbaik.” (hlm. 127)
Cantik
“Aku tahu aku cantik. Tubuhku proporsional. Rambut hitam legam nan panjang. Menurut seseorang yang akan penting sekali dalam semua urusan malam ini: “mukamu bercahaya oleh sesuatu, Tania..”” (hlm. 15)
Membanggakan
“Lihatlah....Tania yang dewasa dan cantik. Tania yang akan selalu membanggakan ibu. Tania yang akan selalu membanggakan.” (hlm. 192)
2) Oom Danar.
Danar adalah seorang pemuda yang tampan, dewasa, baik, murah hati, penyayang, dan menyukai anak-anak. Ia juga pandai menulis, sehingga novel-novel karyanya laku keras di pasaran hingga merambah ke mancanegara.
“Dia berkeliling berkenalan dengan teman-temanku. Maggie yang orangtuanya tinggal di Selangor mendesis, “wow, cute,” saat bersalaman dengannya. Teman-temannya ikut tertawa. Berbisik dengan genitnya. Lebih ramai.” (hlm. 95)
Baik
“Dia beranjak dari duduknya, mendekat. Jongkok di hadapanku. Mengeluarkan saputangan dari saku celana. Meraih kaki kecilku yang kotor dan hitam karena bekas jalanan. Hati-hati membersihkannya dengan ujung saputangan. Kemudian membungkusnya perlahan-lahan.” (hlm. 24)
“saat kami akan turun, ia memberikan selembar uang sepuluh ribuan,”untuk beli obat merah.” (hlm.24)
3) Dede.
Dede adalah seorang pemuda yang baik, menyanyangi keluarganya, cerdas, memilki nalar yang tinggi, tampan, serta tidak bisa diam. Dede seringkali menyeletuk dan mengoceh ketika sedang berkumpul dengan Oom Danar, Tania, dan Kak Ratna. Ia memiliki hobi bermain lego, sejak lego pertama yang ia dapatkan dari Oom Danar sewaktu ia kecil dulu. Ia juga pandai bercerita, karena sering bercerita bersama Oom Danar di kelas mendongeng.
Cerdas
“Dede ranking empat dikelas, meski tidak ikut ulangan umum karena sakit.” (hlm.44)
4) Ratna
Kak Ratna adalah seorang perempuan yang berperawakan seperti artis. Ia baik, menyenangkan, cantik, pengertian, mau mendengarkan, penyabar, dan tulus. Ia begitu menyayangi Danar sehingga tidak begitu menyadari perasaan yang sebenarnya Danar simpan diam-diam.
c) Alur
Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran atau alur maju mundur. Hal ini dibuktikan oleh tahapan cerita berikut ini:
1) Pengenalan/Awal cerita.
Awal Cerita dalam novel ini dimulai dengan narasi Tania yang berlokasi di sebuah toko buku. Toko buku inilah yang mengaitkan segala cerita yang kelak akan mengalir. Narasi yang dipaparkan adalah narasi mengenai perasaan Tania, sang tokoh utama, yang kemudian berlanjut dengan pengenalan berbagai tokoh dalam cerita ini.
2) Konflik/ Awal Permasalahan
Permasalahan/konflik dalam cerita ini berlangsung ketika Tania kecil mulai merasa perasaan yang mengganggu ketika dirinya, Danar, Kak Ratna, Dede, dan Ibu berjalan bersama ke Dunia Fantasi. Ia mulai merasa cemburu. Selain itu, konflik juga terjadi ketika Kak Ratna memberitahu dirinya bahwa ia dan Danar akan segera menikah.
3) Klimaks/Puncak Permasalahan
Klimaks dari novel ini adalah terletak pada bagian ketika menjelang akhir, yakni ketika Tania bertemu dengan Oom Danar di bawah pohon Linden dan membicarakan mengenai kejujuran yang sebenarnya dari seluruh perasaan yang mereka pendam selama ini.
4) Anti Klimaks
Anti Klimaks dari novel ini adalah ketika Tania memutuskan untuk berdamai dengan perasaannya sendiri dan ingin berusaha melepaskan bayang-bayang Danar di benaknya.
5) Resolusi/Penyelesaian
Resolusi dari cerita ini adalah ketika Tania akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Danar dan kembali melanjutkan hidupnya dengan kembali ke Singapura.
d) Latar
1) Latar Tempat
Yang menjadi latar tempat dalam novel ini adalah daerah di negara Indonesia dan Singapura. Seperti ketika di Indonesia, novel ini mengambil latar tempat di :
• Rumah kardus Tania:
“dan akhirnya sampailah kami kepada pilihan rumah kardus.” (hlm.30)
• Lingkungan rumah kardus Tania:
“aku, adikku, dan Ibu sering duduk dibawah rumah kardus kami, menatap pohon yang mekar tersebut dibawah bulan purnama, seperti malam ini.” (hlm. 232)
• Toko buku favorit Danar:
“Lantai dua toko buku terbesar kota ini. Sudah setengah jam lebih aku terpekur berdiam diri disini. Mengenang semua kejadian itu. Mengenangnya. “ (hlm. 104)
• Rumah sakit:
“menyuruh kami mandi di kamar mandi rumah sakit.” (hlm. 57)
• Pusara Ibu:
“Aku tersenyum sambil bersibak, agar mereka berdua bisa merapat ke pusara ibu.” (hlm. 195)
• Kontrakan Danar
“Sehari setelah ibu meninggal, aku dan adikku pindah ke kontrakannya.” (hlm. 67)
• Bandara:
“ketika tiba di bandara, dia dan Dede sudah menjemputku di lobbi kedatangan luar negeri.” (hlm. 78)
Novel ini juga mengambil latar tempat di Singapura yaitu di :
• Bandara Changi:
“pukul 15.00 aku mengantar mereka ke Bandara Changi” (hlm. 102)
• NUS (National University of Singapore):
“Aku mengajaknya jalan-jalan di Kampus National University of Singapore (NUS)” (hlm. 100)
• Toko buku terbesar di Singapura:
“buktinya, saat Dede ingin membeli buku-buku di salah satu toko buku terbesar di Singapura, ia hanya mengangguk, mengiyakan.” (hlm. 96)
2) Latar Waktu
• Pagi hari
“besok pagi-pagi, ibu mengganti perban itu dengan lap dapur, saputangan itu dicuci.” (hlm. 24)
• Siang hari
“kami makan siang di kantin mahasiswa.” (hlm. 101)
• Sore hari
“aku ingat sekali, sore hari Minggu itu seperti biasa aku dan adikku pulang lebih lama dibandingkan anak-anak lain.” (hlm.38)
• Malam hari
“malam-malam duduk didepan kontrakan berlalu percuma.” (hlm. 37)
3) Latar Suasana
• Menyenangkan
“pesta sweet seventeen-ku hanya seperti itu. (meski bagiku itulah pesta terbaik selama ini)” (hlm. 95)
• Menyedihkan
“Kak.. kenapa Ibu dibungkus?” aku hanya menggeleng lemah. Usianya delapan tahun, dan ia belum mengerti benar tentang kata “kematian”” (hlm. 62)
• Mengharukan
“tahukah kau. Danar tadi sempat berkaca-kaca mendengar pidatomu.” (hlm. 130)
• Mengagetkan
“mukaku memang terlanjur memerah. Semua ini mengejutkan.” (hlm. 131)
e. Sudut Pandang
Sudut pandang dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama pelaku utama. Cerita ini dikisahkan melalu sudut pandang Tania, sang tokoh utama dari novel ini. Tercermin dalam kutipan berikut ini:
“aku mencintainya. Itulah semua perasaanku.” (hlm. 154)
“aku menimpuk kepala Anne dengan gumpalan tisu.” (hlm. 177)
“dia menoleh padaku. Kami bersitatap sejenak. Ya Tuhan, mata itu redup. Redup sekali.” (hlm.237)
f. Gaya Bahasa
1) Simile
“seseorang yang bagai malaikat hadir dalam kehidupan keluarga kami...” (hlm.128)
2) Asosiasi
“mobil beringsut seperti keong.” (hlm. 65)
3) Hiperbola
“seseorang yang membuatku rela menukar semua kehidupan ini dengan dirinya.” (hlm.129)
“Esok malamnya e-mail kak Ratna berdarah-darah.” (hlm. 228)
4) Personifikasi
“Angin malam memainkan anak rambut.”(hlm.236)
“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin.” (hlm. 63)
g. Amanat
Amanat yang terkandung dalam novel ini ialah, terkadang hal yang terbaik adalah menerima. Menerima, bahwa segala hal yang terjadi tidak selalu seperti apa yang kita inginkan. Menerima, dan belajar untuk mengikhlaskan. Jika sesuatu itu memang bukan hadir untuk kita, Meski seberapapun besar usaha yang kita perbuat, meski seberapa susahnya pun kita berjuang, meski seberapa sakitnya pun kita bertahan, dan meski seberapapun indahnya memori yang ada bersama seseorang tersebut, kita tidak akan bisa mendapatkannya. Karena yang terbaik menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut kehendak Tuhan.
Dan ketika kita menghadapi suatu musibah, suatu masalah, atau apapun yang negatif, hendaknya kita tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Karena sedih dan senang itu datangnya satu paket. Tuhan maha adil, dan tidak akan membiarkan hambanya bersedih kecuali apabila hambanya memang sanggup untuk menanggungnya. Alih-alih bersedih, sebaiknya kita semakin mengembangkan diri kita dan menjadi lebih baik lagi, seperti yang dilakukan Tania. Meski Danar tidak jadi bersamanya, ia tetap melanjutkan hidup dan menjadi seseorang yang sukses di Singapura.
Karena cinta tidak harus memiliki.
Komentar
Posting Komentar