Genre Sastra Klasik Nusantara

 GENDRE SASTRA KLASIK NUSANTARA


Dosen Pengampu : Dr.Abdurahman, M.Pd.

Nama : Juliana Koto

Nim : 22016185

Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia





A. GENDRE SASTRA KLASIK NUSANTARA

    Sastra Melayu klasik adalah sastra yang berbentuk lisan yang tercipta dari suatu ujaran atau ucapan. Sastra Melayu klasik masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Islam pada abad ke-13. Sastra Melayu klasik termasuk bagian dari karya sastra Indonesia angkatan tahun 1870 - 1942, yang berkembang di lingkungan masyarakat Sumatera seperti Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya. Pada dasarnya, Sastra Melayu lama atau klasik bersifat verbalisme, yaitu ujaran/ucapan dari mulut ke mulut. Hal ini berdampak pada pemaknaan penerima ujaran tersebut.

    Dalam karya sastra disebutkan bahwa sastra lama berkembang sebelum periode 20-an. Pada awalnya bentuk sastra merupakan cerita rakyat yang disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut dan turun temurun. Menurut A. Ikram, dalam bukunya Filologi Nusantara (Jakarta: Pustaka Jaya 1991, hal. 220) Sekarang cerita rakyat ditulis dan diterbitkan menjadi buku, seperti halnya cerpen atau novel.

    Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat. Sastra tersebut disebut sebagai sastra melayu klasik karena sastra tersebut berkembang di daerah melayu pada masa sebelum dan sesudah islam hingga mendekati tahun 1920-an di masa balai pustaka.

    Catatan tertulis yang pertama kali ditemukan menggunakan bahasa Melayu Kuno yang kabarnya berasal dari abad ke-7 Masehi, bahkan sastra tersebut tercantum pada beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya di bagian selatan Sumatera dan wangsa Syailendra di beberapa tempat di Jawa Tengah. Tulisan ini menggunakan aksara Pallawa. Selanjutnya, bukti-bukti tertulis lainnya bermunculan di berbagai tempat, meskipun dokumen terbanyak kebanyakan mulai berasal dari abad ke-18.


B. KARAKTERISRIK SASTRA KLASIK NUSANTARA


1. Universal, dapat diterapkan di mana saja, kapan saja, siapa saja.

2. Klasik Imitatif, ini adalah imitasi atau imitasi turun temurun.

3. Tradisional, mempertahankan kebiasaan masyarakat atau adat kuno.

4. Didaktis, pesan untuk mendidik masyarakat baik pesan moral dan pesan agama atau agama.

5. Disebar Secara Lisan, penyebab utamanya adalah bahwa pergerakan masa lalu sangat lambat dibandingkan dengan konvoi masyarakat di zaman modern. Oleh karena itu, penyebaran budaya dan cerita lisan akan membahas penyebaran cerita dibandingkan dengan penggunaan media tertulis. Selain itu, melalui budaya lisan, masyarakat juga mampu lebih intens menyampaikan nilai-nilai positif yang terkandung dalam cerita sehingga pesan moral yang dikandungnya mencapai pendengar lebih cepat dan efektif.

6. Bernilai Budaya Setempat, penciptaan karya-karya sastra klasik Malaysia biasanya membawakan budaya lokal, sehingga dari sejarah yang kaya sastra klasik Malaysia pembaca bisa mendapatkan gambaran moral dari orang-orang yang hidup di era sebelumnya.

7. Bertema Istana sentris, sosok itu biasanya adalah raja atau pangeran yang kuat dan kisah cintanya. Akhir cerita selalu bahagia.

8. Anonim, dalam arti tidak mengetahui siapa penulisnya, hal ini disebabkan oleh fakta bahwa di masa lalu tidak banyak orang yang mengejar popularitas, sehingga penulis lebih berkonsentrasi pada penyajian karya yang berfokus pada fungsi cerita.


C. JENIS-JENIS KARYA SASTRA KLASIK NUSANTARA


1. Gurindam

    Gurindam ini dibawa oleh orang Hindu atau pengaruh sastra Hindu. Gurindam berasal dari Bahasa Tamil (India) yaitu kirindam yang berarti mula-mula asal perumpamaan. Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi. Gurindam berisi nasihat, petuah, ajaran moral kebaikan dan budi pekerti.

Ciri-ciri Gurindam adalah sebagai berikut:

1. Setiap bait terdiri atas dua baris atau larik

2. Biasanya menggunakan pola rima sama atau lurus (a – a)

3. Umumnya setiap baris terdiri atas 4-6 kata (8-12 suku kata)

4. Baris pertama dan kedua biasanya membangun hubungan sebab akibat

5. Umumnya mengandung petuah, nasihat, atau amsal (ucapan yang mengandung kebenaran).


2. Hikayat

    Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang.

Ciri-ciri Hikayat:

1. Isi ceritanya berkisar pada tokoh raja dan keluarganya.

2. Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika tersendiri yang menyebutkannya fantastis.

3. Mempergunakan banyak kata arkais (klise).

4. Nama pengarang biasanya tidak disebutkan (anonim).


3. Karmina

    Karmina atau pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.

Ciri-ciri Karmina :

1. Terdiri dari dua baris

2. Bersajak a-a

3. Terdiri dari 8-12 suku kata

4. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi

Contoh pantun karmina :

Sudah gaharu cendana pula.

Sudah tahu masih bertanya pula.


4. Pantun

    Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun". Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis. Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Contoh Pantun:

Kayu cendana diatas batu

Sudah diikat dibawa pulang

Adat dunia memang begitu

Benda yang buruk memang terbuang


5. Seloka

    Seloka adalah bentuk puisi Melayu klasik yang berisikan pepatah dengan maksud senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, kadang-kadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris. Kata "seloka" diambil dari bahasa Sanskerta, sloka.

Contoh seloka 4 baris:

Sudah bertemu kasih sayang

Duduk terkurung malam siang

Hingga setapak tiada renggang

Tulang sendi habis berguncang


6. Syair

    Syair berasal dari Persia (sekarang Iran) dan telah dibawa masuk ke Nusantara bersama-sama dengan kedatangan Islam. Kata syair berasal dari bahasa Arab syu’ur yang berarti perasaan. Kata syu’ur berkembang menjadi kata syi’ru yang berarti puisi dalam pengertian umum. Syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Akan tetapi, dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga syair di desain sesuai dengan keadaan dan situasi yang terjadi.

    Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud).


7. Talibun

Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris (mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya.

Ciri-ciri Talibun adalah seperti berikut:

1. Sejenis puisi bebas.

2. Terdapat beberapa baris dalam rangkap.

3. Isinya berdasarkan sesuatu perkara diceritakan secara terperinci.

4. Tiada pembayang. Setiap rangkap dapat menjelaskan satu keseluruhan cerita.

5. Menggunakan puisi lain (pantun/syair) dalam pembentukannya.

6. Gaya bahasa yang luas dan lumrah (memberi penekanan kepada bahasa yang berirama seperti pengulangan dll).

7. Berfungsi untuk menjelaskan sesuatu perkara.

8. Merupakan bahan penting dalam pengkaryaan cerita penglipur lara.


Tema talibun biasanya berdasarkan fungsi puisi tersebut. Contohnya seperti berikut:

1. Mengisahkan kebesaran/kehebatan sesuatu tempat dll

2. Mengisahkan keajaiban sesuatu benda/peristiwa

3. Mengisahkan kehebatan/kecantikan seseorang

4. Mengisahkan kecantikan seseorang

5. Mengisahkan kelakuan dan sikap manusia

6. Mengisahkan perlakuan dimasa lalu


Contoh Talibun:

Kalau anak pergi ke pekan

Yu beli belanak beli

Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan

Ibu cari sanakpun cari

Induk semang cari dahulu


D. SITUASI BAHASA GENRE SASTRA KLASIK NUSANTARA

    Sastra Melayu atau Kesusastraan Melayu adalah sastra yang hidup dan berkembang di kawasan Melayu. Sastra Melayu mengalami perkembangan dan penciptaan yang saling mempengaruhi antara satu periode dengan periode yang lain. Situasi masyarakat pada jaman sebelum Hindu, jaman Hindu, jaman peralihan dari Hindu ke Islam, dan jaman Islam, berpengaruh kuat pada hasil-hasil karya sastra Melayu. Terjadi hubungan yang erat antara tahap perkembangan, kehadiran genre, dan faktor lain di luar karya sastra. Sastra Melayu berkembang pesat pada jaman Islam dan sesudahnya, karena tema-tema yang diangkat seputar kehidupan masyarakat Melayu, meskipun beberapa ada pengaruh asing. Sebelum jaman Islam, konteks penceritaannya lebih berorientasi ke wilayah di luar Melayu, yaitu India dengan latar belakang kebudayaan Hindu.

    Yang dimaksud dengan Sastra Melayu Klasik adalah sastra yang hidup dan berkembang di daerah Melayu pada masa sebelum dan sesudah Islam hingga mendekati tahun 1920-an di masa Balai Pustaka. Masa sesudah Islam merupakan zaman dimana sastra Melayu berkembang begitu pesat karena pada masa itu banyak tokoh Islam yang mengembangkan sastra Melayu.

     Kesusastraan Melayu sebelum Islam tidak ada nuansa Islam sama sekali dan bentuknya adalah sastra lisan. Isi dan bentuk sastranya lebih banyak bernuansa animisme, dinamisme, dan Hindu-Budha, dan semua hasil karya tersebut dituangkan dalam bentuk prosa dan puisi. Untuk puisi, tampak tertuang ke dalam wujud pantun, peribahasa, teka-teki, talibun, dan mantra. Bentuk yang terakhir ini (mantra), sering dikenal dengan jampi serapah, sembur, dan seru. Sedangkan bentuk prosa, tampak tertuang dalam wujud cerita rakyat yang berisi cerita-cerita sederhana dan berwujud memorat (legenda alam gaib yang merupakan pengetahuan pribadi seseorang), fantasi yang berhubungan dengan makhluk-makhluk halus, hantu dan jembalang.

    Perkembangan kesusastraan Melayu sesudah kedatangan Islam ditandai dengan penggunaan Huruf Arab yang kemudian disebut Tulisan Jawi atau Huruf Jawi, yang dalam perkembangannya dikenal dengan istilah Arab Melayu. Hal ini dikarenakan masyarakat Melayu merasa bahwa tulisan tersebut telah menjadi milik dan identitasnya. Huruf Jawi ini diperkenalkan oleh para pendakwah Islam untuk membaca al-Qur`an dan menelaah berbagai jenis kitab dari berbagai disiplin ilmu. Perkembangan penulisan ini sangat pesat karena Islam memperbolehkan semua orang untuk menulis dalam berbagai bidang.






DAFTAR PUSTAKA


https://majalahpendidikan.com/contoh-sastra-melayu-klasik/

https://www.sastrawacana.id/2019/02/sastra-melayu-klasik-pengertian-ciri.html?m=1

http://sipeg.unj.ac.id/repository/upload/buku/21._Sastra_Klasik_.pdf







Komentar