Puisi

 PUISI


Nama: Juliana Koto

Nim: 22016185

Prodi: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Dosen pengampu: Dr. Abdurahman


A. PENGERTIAN PUISI

    Puisi merupakan bentuk karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair dengan bahasa yang terkait irama, matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna. Puisi mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dalam mengonsentrasikan kekuatan bahasa dengan struktur fisik dan struktur batinnya. Puisi mengutamakan bunyi, bentuk, dan juga makna yang mendalam dengan memadatkan segala unsur bahasa.

Beberapa pengertian puisi menurut para ahli:

1. Herman Waluyo, puisi ialah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia,

2. Sumardi, puisi ialah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias(imajinatif).

3. Thomas Carlye, puisi ialah ungkapan pikiran yang bersifat musikal.

4. James Reevas, puisi ialah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat.

5. Pradopo, puisi ialah rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan.

6. Herbert Spencer, puisi adalah bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan keindahan.


B. CIRI-CIRI PUISI

    Puisi ialah seni tertulis menggunakan bahasa sebagai kualitas estetiknya. Puisi dibedakan menjadi 2 yaitu puisi lama dan juga puisi baru:

1. Puisi Lama

    Puisi lama merupakan puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan yaitu sebagai berikut:

• Jumlah kata dalam satu baris

• Jumlah kata dalam 1 bait

• Persajakan (rima)

• Banyak suku kata di tiap baris

• Irama


Ciri-ciri puisi lama:

• Tak diketahui nama pengarangnya

• Penyampaiannya bersifat dari mulut ke mulut, sehingga merupakan sastra lisan

• Sangat terikat akan aturan-aturan misalnya jumlah kata tiap baris atau tiap bait, jumlah suku kata ataupun rima.


2. Puisi Baru

    Puisi baru merupakan puisi yang tidak terikat lagi ole aturan yang mana bentuknya lebih bebas daripada puisi lama dalam segi jumlah baris, suku kata, ataupun rima.

Ciri-ciri Puisi Baru

• Mempunyai bentuk yang rapi, simetris

• Persajakan akhir yang teratur

• Memakai pola sajak pantun dan syair walaupun dengan pola yang lain

• Umumnya puisi 4 seuntai

• Disetiap baris atasnya sebuah gatra (kesantuan sintaksis)

• Ditiap gatranya terdiri dari dua kata (pada umumnya) 4-5 suku kata.


C. JENIS-JENIS PUISI

1. Puisi Naratif

    Puisi naratif mengungkapkan suatu cerita atau penjelasan penyair. Puisi ini terbagi kedalam beberapa macam, yakni balada dan romansa. Balada adalah puisi yang berisi cerita tentang orang-orang perkasa ataupun tokok pujaan. Contoh Balada Orang-orang Tercinta dan Blues untuk Bonnie karya WS Rendra. Romansa ialah jenis puisi cerita yang memakai bahasa romantik yang berisi kisah percintaan yang diselingi perkelahian dan petualangan.

2. Puisi Lirik

    Jenis puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam yakni elegi, ode, dan serenade:

Elegi ialah puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya Elegi Jakarta karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di Kota Jakarta.

Serenada merupakan sajak percintaan yang dapat dinyanyikan. Kata ‘Serenada’ bermakna nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam 4 kumpulan sajak. Misalnya “Serenada Biru”, “Serenada Hitam”, “Serenada Merah Jambu”, “Serenada Kelabu”, “Serenada Ungu”. Warna-warna dibelakang serenade itu menggambarkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, dan kecewa.

• Ode ialah puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, atau sesuatu keadaan. Ode banyak ditulis sebagai pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang dikagumi contohnya seperti Teratai (karya Sanusi Pane), Diponegoro (Chairil Anwar), dan Ode buat Proklamator (Leon Agusta).


3. Puisi Deskriptif

    Dalam jenis puisi ini, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik perhatian. Puisi yang termasuk ke dalam jenis puisi deskriptif adalah satire dan puisi bersifat kritik sosial.

Satire ialah puisi yang mengungkapkan perasaan ketidak puasan penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya.

Puisi kritik sosial ialah puisi yang juga menyatakan ketidak puasan penyair terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidak beresan keadaan atau orang tesebut. Kesan penyair ini juga dapat kita hayati dalam puisi-puisi impresionistik yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.


D. UNSUR-UNSUR DALAM PUISI

    Ada dua unsur yang membangun suatu puisi, yakni 

1. Unsur Instrinsik

    Unsur instrinsik puisi merupakan unsur-unsur yang terkandung dalam puisi dan mempengaruhi puisi sebagai karya sastra. Yang termasuk unsur instrinsik puisi ialah diksi, imaji, majas, bunyi, rima, ritme, dan tema.

Diksi atau pilihan kata, dalam membangun puisi penyair hendaknya memilih kata dengan c[ermat dengan cara mempertimbangkan makna, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam suatu puisi keseluruhan.

Daya bayang atau imaji, yang dimaksud dengan daya bayang atau imaji ketika membangun puisi ialah penggunaan kata-kata yang konkret dan khas yang dapat menimbulkan imaji visual, auditif, ataupun taktil.

Gaya bahasa atau majas, dalam puisi ialah bahasa yang dipakai penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa atau memakai kata-kata yang bermakna kiasan atau lambing.

Bunyi, dalam puisi mengacu pada dipaainya kata-kata tertentu sehingga menimbulkan efek nuansa tertentu.

Rima, ialah persamaan bunyi atau perulangan bunyi dalam puisi yang bertujuan untuk menimbulkan efek keindahan.

Ritme, adalah dinamika suara dalam puisi agar tidak dirasa monoton bagi penikmat puisi.

Tema, ialah ide atau gagasan pokok yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui puisinya.


2. Unsur Ekstrinsik

    Unsur ekstrinsik puisi merupakan unsur-unsur yang berada di luar puisi dan mempengaruhi kehadiran puisi sebagai karya seni. Adapun yang termasuk dalam unsur ekstrinsik adalah aspek historis, psikologis, filsafat, dan religius.

Aspek historis merupakan unsur-unsur kesejarahan atau gagasan yang terkandung dalam puisi

Aspek psikologis merupakan aspek kejiwaan pengarang yang termuat dalam puisi

Aspek filsafat beberapa ahli menyatakan bahwa suatu filsafat berkaitan erat dengan puisi atau karya sastra keseluruhan dan beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa filsafat dan karya sastr dalam hal ini puisi tidak saling terkait satu sama lain.

Aspek religius dalam puisi mengacu pada tema yang umum diangkat dalam puisi ole pengarang.


E. STRUKTUR DALAM PUISI 

1. Struktur Batin

    Struktur batin puisi bisa disebut juga sebagai hakikat suatu puisi yang terdiri dari beberapa hal, seperti:

a. Tema/makna (sense)

    Ini adalah unsur utama puisi karena dapat menjelaskan makna yang ingin disampaikan oleh seorang penyair dimana medianya berupa bahasa.

b. Rasa/feeling

    Ini adalah sikap sang penyair terhadap suatu masalahyang diungkapkan dalam puisi. Pada umumnya, uangkapan rasa ini berkaitan dengan latar belakang sang penyair, misalnya agama, pendidikan, kelas sosial, jenis kelamin, pengalaman sosial, dan lain-lain.

c. Nada/tone

    Nada adalah sikap seorang penyair terhadap audiensnya serta sangat berkaitan dengan makna dan rasa. Melalui nada, seorang penyair dapat menyampaikan suatu puisi dengan nada mendikte, meggurui, memandang rendah, dll.

d. Tujuan/intention

    Tujuan/maksud/amanat ialah suatu pesan yang ingin disampaikan oleh seorang penyair kepada audiensnya.


2. Struktur Fisik

    Struktur fisik suatu puisi bisa disebut jua dengan metode penyampaian hakikat suatu puisi, yang terdiri dari beberapa hal berikut ini:

a. Perwajahan Puisi (tipografi)

    Tipografi adalah bentuk format suatu puisi seperti pengaturan baris, tepi kanan-kiri, halaman yang tidak dipenuhi kata-kata. Perwujutan puisi sangat berpengaruh pada pemaknaan isi puisi itu sendiri.

b. Diksi

    Diksi merupakan pemilihankata yang dilakukan oleh seorang penyair dalam mengungkapkan puisinya sehingga dapat efek sesuai dengan yang diinginkan. Pemilihan kata pada puisi sangat berkaitan dengan makna yang ingin disampaikan oleh si penair.

c. Imaji

    Imaji ialah susunan kata dalam puisi yang bisa mengungkapkan pengalaman indrawi sang penyair (pendengaran, penglihatan, dan perasaan) sehingga dapat mempengaruhi audiens seolah-olah merasakan yang dialami oleh penyair.

d. Kata Konkret

    Kata konkret merupakan bentuk kata yang bisa ditangkap oleh indra manusia sehingga menimbulkan imaji. Kata-kata yang dipakai umumnya berbentuk kiasan, misalnya penggunaan kata “salju” untuk menjelaskan kebekuan jiwa.

e. Gaya Bahasa

    Gaya bahasa merupakan penggunaan bahasa yang bisa menimbulkan efek dan konotasi tertentu dengan bahasa figuratif sehingga mengandung banyak makna. Gaya bahasa ini bisa disebut dengan majas (metafora, ironi, repetisi, pleonasme, dll)

f. Rima /irama

    Rima ialah adanya persamaan bunyi dalam penyampaian puisi, baik diawal, tengah, maupun diakhir puisi. Beberapa bentuk rima yakni:

Onomatope, yakni tiruan terhadap suatu bunyi. Misalnya ‘ng’ yang mengandung efek magis.

• Bentuk intern pola bunyi, yakni aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, ajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi, dan sebagainya.

• Pengulangan kata, yakni penentuan tinggi-rendah, panjang-pendek, keras-lemah suatu bunyi.

 



DAFTAR PUSTAKA


Lafamane, Felta. "Karya Sastra (Puisi, Prosa, Drama)." (2020).


Komentar