Hakikat Interpretasi Terhadap karya Sastra

 HAKIKAT INTERPERASI TERHADAP KARYA SASTRA


Nama : Juliana Koto

Nim : 22016185

Dosen Pengampu : Dr.Abdurahman M.Pd.

Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia



BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

    Sastra merupakan ungkapan perasaan yang mendalam. Ungkapan ekspresi yang mendalam dari seorang penulis dituangkan dalam bahasa. Ekspresi pikiran seorang penulis ini dapat berupa ide-ide, perasaan, pemikiran dan semua kegiatan mental manusia. Ekspresi pikiran penulis ini, mengandung kebaikan dan keindahan. Aspek kebaikan dan keindahan dalam karya sastra belum lengkap kalau tidak dikaitkan dengan kebenaran. Kebenaran dan keindahan dalam karya sastra hendaknya dikaitkan dengan nilai-nilai yang benar dan yang indah. Sebuah karya sastra harus dapat menjanjikan kepada pencinta sastra kepekaan terhadap nilainilai hidup dalam sastra, kearifan menghadapi lingkungan kehidupan, realitas kehidupan, dan realitas nasib dalam hidup (Suhendar, 1993:1). Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, ia akan terdorong untuk melaksanakan kebenaran itu. Manusia akan mengalami pertentangan batin apabila memiliki pengetahuan tentang kebenaran tanpa melaksanakan kebenaran. Konflik batin ini terjadi karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi oleh kebenaran. Manusia dalam kehidupannya tidak akan bosan untuk mencari kenyataan yang selalu ditunjukkan oleh kebenaran. 

    Dalam interpretasi sastra sangat berkait dengan perkembangan pemikiran hermeneutika, terutama dalam sejarah filsafat dan teologi karena pemikiran hermeneutika mula-mula muncul dalam dua bidang tersebut, sebagaimana dikemukakan. Untuk memahami hermeneutika dalam interpretasi sastra, memang diperlukan pemahaman sejarah hermeneutika, terutama megenai tiga varian hermeneutika seperti yang dikemukakan Lefevere (hermeneutika tradisional, dialektik, dan ontologis).

    Evaluasi terhadap sastra tidak lepas dari program pembelajaran sastra secara keseluruhan, terutama yang berkaitan dengan bahan ajar dan teknik. Hal ini mudah dipahami karena evaluasi merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk mengukur seberapa baik siswa telah menguasai materi atau pengalaman belajar yang diajarkan sesuai dengan tujuan.


B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah Interpretasi yang terdapat dalam karya Sastra dan hal yang dapat mempengaruhi intepretasi terhadap karya sastra?

2. Bagaimana jenis-jenis Interpretasi terhadap karya sastra?

3. Bagaimanakah hakikat evaluasi terhadap karya sastra dan ragam evaluasi terhadap karya sastra?


C. Tujuan

1. Dapat mengetahui interpretasi yang berada dalam karya sastra dan hal yang bisa mempengaruhi interpretasi terhadap karya sastra.

2. Dapat memahami jenis-jenis interpretasi terhadap karya sastra.

3. Dapat mengetahui hakikat evaluasi terhadap karya sastra dan ragam evaluasi terhadap karya sastra.


BAB II 

PEMBAHASAN

1. Interpretasi Dalam Karya Sastra

    Interpretasi ini mempunyai artian makna yaitu suatu bentuk hal yang akan menyangkut mengenai bentuk laporan yang dapat berbentuk penerimaan. Di mana laporan peneriman tersebut mempunyai unsur struktural di dalamnya. Dalam aspek ini juga telah dimaknai dalam laporan yang terdapat dalam karya sastra tersebut sama hal nya dengan laporan-laporan yang terdapat dan berada dalam aspek lainnya. Maka ketika nantinya pembaca yang ingin melakukan penafsiran terhadap karya-karya sastra yang telah ada, maka sama artinya dengan memberikan pengertian khusus terhadap karya sastra tersebut.

    Banyak bentuk ataupun langkah yang dapat dilalui dan dilakukan dalam memberikan tafsiran terhadap suatu teks yang berada dalam karya sastra. Adapun makna yang terpenting dalam memberikan interpretasi terhadap karya sastra ini adalah, ketika nantinya akan memberikan penafsiran-penafsiran pada karya sastra. Maka penafsiran tersebut hendaklah penafsiran yang telah disusun secara sistematis. Tujuannya disusun secara sistematis adalah agar, ketika nanti orang lain yang mengetahui interpretasi terhadap karya sastra tersebut tidak akan merasakan kebingungan atas interpretasi yang diberikan. Maka karena itulah penfasiran dalam karya sastra tersebut harus disesuaikan dengan urutan yang terdapat dalam penfasiran itu sendiri. Tidak semua orang dapat melakukan intepretasi terhadap karya sastra ini, sebab ketika nantinya orang tersebut tidak mengetahui ilmu dalam memberikan penafsiran terhadap karya sastra yang telah ada, maka akan berakibat fatal dan akan memberikan kesalahan yang khusus pada karya sastra tersebut.

    Tiga unsur yang akhirnya menjadi variabel utama pada kegiatan manusia dalam memahami dan membuat interpretasi terhadap berbagai hal yakni:

a. Tanda, pesan atau teks yang menjadi sumber atau bahan dalam penafsiran yang diasosiasikan dengan pesan pesan yang dibawa Hermes dari dewa Jupiter di gunung Olimpus tadi.

b. Perantara atau penafsir (Hermes).

c. Penyampaian pesan itu leh sang perantara agar bisa dipahami dan sampai kepada yang menerima.


2. Jenis-Jenis Interpretasi Terhadap Karya Sastra

    Bahwasanya terdapat banyak jenis yang terdapat dalam menginterpretasikan karya sastra ini, namun dengan hal demikianlah bahwasanya dalam aspek ini hanya terdapat enam jenis pokok penting yang berada di dalamnya, diantaranya adalah :

a. Penafsiran yang bertitik tolak dari pendapat, bahwa teks sendiri sudah jelas

    Menurut pandangan ini bahwasanya bentuk-bentuk isyarat-isyarat yang terdapat di dalam teks sastra nantinya akan memberikan kesempatan yang berharga bagi seorang pembaca yang kompenten untuk dapat menemukan arti yang tepat terhadap karya sastra tersebut. Dalam menemukan arti makna tersendiri dari suatu karya sastra bukanlah suatu hal yang sulit dan juga suatu hal yang mudah Maka dalam aspek ini dinyatakan bahwa isyarat-isyarat yang terdapat dalam teks bacaan, teks bacaan yang dimaksud ini adalah teks bacaan yang berbentuk sastra. Dalam melakukan penafsiran menemukan makna ini dapat kita temui dan dijumpai pada aspek yang dibuat oleh New Criticism. Dimana beberapa dari ahli hermeneutic, seperti emil staiger, sangat mendukung pendapat mengenai penafsiran ini, karena mereka beranggapan bahwasanya penafsiran ini nantinya akan memberikan dampak yang positif terhadap seseorang, sebab di dalamnya akan terdapat suatu pembelajaran dan pengajaran berupa penemuan arti makna dalam karya sastra yang telah ada.

b. Penafsiran yang berusaha untuk menyusun kembali arti historik

    Pada interpretasi atau pendekatan ini si juru tafsir nantinya dapat berpedoman kepada maksud dari yang telah dituturkan oleh seorang pengarang, seperti hal yang telah dituangkan dan diungkapkan dari dalam dan luar teks itu sendiri. Kita nantinya yang akan menjadi pengamat akan dapat menemukan sebuah celah bentuk aspek yang diberikan oleh pengarang, baik yang berbentuk internal. Kemudian data dari luar teks ini nantinya akan menjadi penunjang pembaca untuk menemukan maksud yang disampaikan oleh pengarang, banyak langkah dan cara yang dapat dilakukan dan ditempuh dalam menemukan maksud dari yang disampaikan oleh setiap pengarang yang ada, semuanya tergantung kepada tingkatan pemahaman dan tingkatan kadarisasi seseorang dalam menemukan maksud dari pengarang tersebut. Adapun seseorang tokoh yang telah pernah melakukan penyusunan kembali, tokoh tersebut bernama Gunter Gremm, pada saat itu dirinya telah pernah melakukan penyusunan kembali terhadap latar belakang yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Dengan suatu tujuan memberikan dampak berupa pemaham yang lebih terhadap karya sastra dan aspek yang diinginkan oleh dirinya, dalam penyusunan ini nantinya akan dapat memberikan kemudahan kepada diri kita terhadap unsur pemahaman yang ada.


c. Penafsiran Hermeneutik

    Adapun penafsiran hermeneutik pertama kali dikemukakan oleh Gadamer, dimana dalam bagian ini penafsiran yang diakukan oleh tokoh ini selalu berusaha untuk dapat memberikan paduan atau memperpadukan masa silam dan masa kini. Karena masa silam merupakan fonemana sejarah yang tak boleh untuk dilupakan karen dalam hal ini kita dapat berdiri tegak kok disebabkan karena ada rela korban yang dilakukan oleh masa silam, dengan itulah sebagai bentuk dari masa kini melanjuti dan memperbaiki seluruh aspek yang pada kehidupan ini. Memadukan antara masa silam dan masa kini yang dilakukan oleh tokoh tersebut merupakan suatu bentuk itiakad yang sangat luar biasa. Karena tokoh ini juga telah menyadari bahwasanya dirinya berada di pertengahan suatu arus sejarah yang akan menyangkut baik penerimaan maupun penafsiran. Karena itulah tidak ada rasa lupa yang dimiliki oleh tokoh ini terhadap keadaan dan sejarah yang ada pada masa silam. Kemudian ketika dirinya ingin mengerti terhadap suatu teks adalah dengan cara menghalalkan atau turut dihalalkan dengan tradisi. Penafsiran yang terjadi dalam loyalita ini akan disambilkan dengan meleburkan cakrawala ataupun pemikiran seseorang ketika mas silam dan masa kini. Tujuan dari keseluruhan aspek ini adalah agar nantinya si juru penafsiran ini dapat memahami teks nya dan menafsirkan teksnya. Contohnya yaitu pada penerapan ilmu sastra, ketika nanti sastrawan telah menghasilkan banyak karya sastra, kemudian banyak diakui dan diinterpretasikan oleh semua orang, maka ketika itulah nantinya pengarang, sastrawan ataupun kritikus harus mampu dalam menerapkan aspek ilmu yang berupa pemahaman tersebut kepada semua orang yang ada. 

d. Tafsiran yang dengan sadar disusun dengan bertitik tolak pada pandangan sendiri mengenai sastra

    Hal ini sering diartikan sebagai bentuk tindakan yang dapat dilakukan oleh semua orang, dimana dalam aspek ini kita dapat menunjukkan arti dari sebuah teks. Menurut suatu bentuk pendekatan yang telah diungkapkan oleh marxis, maka ketika itulah George Eliot dalam novelnya The mill on the Floss (1860) melalui atau melewati bentuk leterer, dimana novel yang diciptakan oleh George eliot ini mempunyai suatu bentuk keinginan yaitu memperdamaikan pertentangan antara golongan kapitalisme kota dengan individu-individu yang terdapat di dalam golongan masyarakat desa, dimana golongan yang terdapat dalam masyarakat desa ini telah dikuasai oleh sekolompok bagian yang terdapat di dalam kawasan perkotaan. 

    Dari sudut kamum feminis diarahakan bentuk perhatiannya kepada suatu citra wanita pada zaman ratu Victoria, tokoh ini juga mempunyai pengaruh yang sangat luar biasa, dimana dirinya dapat memberika penodaan terhadap kota dan kapitalisme ketika masa itu”. Dimana dalam cerita atau peristiwa tersebut tidaklah terlepaskan peranan dari seseorang yang bernama seorang pamong yang tentu saja selalu akan memberikan bentuk pendampingan dan unjuk berupa perasaan keapada suaminya. Ini adalah suatu kisah ataupun peristiwa yang menggambarkan bentuk dari si juru tafsir yang ada pada bagian ini.

e. Tafsiran yang bertitik pangkal pada suatu problematik sesuatu

    Di dalam aspek tafsiran ini akan terdapat suatu unsur yang berupa problematika. Dimana akan terdapat bagian-bagian permasalahan di dalamnya, pada sapek ini permasalahan yang telah berada di dalamnya adalah salah satu bentuk permasalahan psikologi atau sosiologi. Dengan adanya permasalahan itulah kemudian terjadi sebuah tragedi yang berupa penafsiran bagian. Dalam bagian ini bukanlah suatu bentuk kebenaran yang akan ditampilkan tetapi unsur ataupun elemen yang akan ditampilkan di dalam aspek ini adalah aspek yang berupa penafsiran pada suatu bidang terbatas.

    Kebanyakan dalam suatu unsur penafsiran biasanya akan selalu mengandung suatu aspek yang berupa kenyataan, padahal pada prinsipnya hal yang akan difokuskan dalam bagian ini adalah suatu hal yang beruap penafsiran dalam suatu bidang, nantinya pada bagian bidang-bidang tertentu yang terdapat dalam sastra akan ditafsirkan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan pemahaman yang dimiliki oleh seseorang yang berada di dalam Kawasan tersebut.

f. Tafsiran-tafsiran yang tidak langsung berusaha agar secara memadai sebuah teks diartikan.

    Adapun bentuk pendekatan yang mengadung interpretasi di dalam bagian ini akan selalu berdoman dan mengarah pada pembaca yang sering disebut sebagai estetik-reseptif. Dimana nantinya seorang pengarang akan mempergunakan saran-saran berupa saran struktural, retorik, dan stilistik, tetapi juga ada pada bagian-bagian bidang tertentu nantinya akan dibiarkan sehingga terdapat kekosongan di dalam elemen ini. 

    Kemudian tokoh-tokoh dalam penganalisisan tafsiran ini adalah tokoh yang berada di dalam teks tersebut tidak dilukiskan dengan bulat, kemudian diajukan berupa teka-teki tetapi tidak dijawab. Lalu adapun sarana yang digunakan dalam hal ini adalah sarana yang berupa bidang-bidang kosong akan dapat mengaktifkan pembaca nantinya. Sebab disanalah nantinya seorang pembaca akan berusaha melatih kemampuan dirinya dalam mengisi bagian-bagian rumpang dan kosong yang terdapat dan berada dalam teks tersebut. 

    Terdapat suatu bentuk tujuan yang ada dalam penafsiran estetik-reseptif ini adalah untuk dapat menunjukkan di mana dan bagaimana teks memaksa pembaca untuk bersikap aktif, agar teks itu nantinya akan dapat ditafsirkan sebagai teks yang berasal dari pembaca itu sendiri. sering juga dimaknai dan ditunjukkan bahwasanya dimana teks ini nantinya akan memberikan suatu bentuk batasan yang aktual terhadap kebebasn pembaca dalam menafsirkannya.


3. Evaluasi Terhadap Karya Sastra

    Kritik sastra adalah pertimbangan baik buruk karya sastra, pertimbangan karya seni atau tidaknya dalam kata pertimbangan terkandung arti memberi nilai sebab itu, dalam kritik sastra tak dapat ditinggalkan pekerjaan menilai. Karya sastra adalah termasuk karya seni, seperti halnya karya-karya seni lainnya. Seni musik, seni lukis, seni tari, dan sebagainya. Didalamnya sudah mengandung penilaian seni. Dan kata seni ini berhubugan dengan penegertian “indah” atau “keindahan”. Kembali pada karya sastra, karya sastra sebagai karya seni memerlukan pertiimbangan, memerlukan penilaian akan “seninya”. Sampai sejauh manakah nilai seni suatu karya sastra ataupun mengapakah suatu karya sastra dikatakan mempunyai nilai seni, sedang karya sastra yang lain kurang atau tidak mempunyai nilai seni atau dengan kata lain mengapakah suatu karya sastra ini “indah” sedangkan karya sastra lain tidak.

    Di depan telah pernah dikutip pendapat rene wellek bahwa kita tak dapat memahami dan menganalisis karya seni tanpa menunjuk kepada nilai, karena kalau kita menyatakan suatu struktur sebagai karya seni, kita sudah memakai timbangan penilaian. Jadi, bila mengeritik karya sastra tanpa penilaian, maka karya sastra yang kita kritik itu tetap tidak dapat kita pahami baik-buruknya, atau berhasil tidaknya sastrawan mengungkapkan pengalaman jiwanya. Membcarakan atau menganalisis karya sastra tanpa pembicaraan penilaian menjadi kehilangan sebagian artinya, kehilangan “rasanya” , karena dalam karya sastra yang menarik adalah sifat seninya, dan sifat estetikanya lah yang dominan dalam karya sastra. Sebab itu, pembicaraan karya sastra sebagai karya seni yang harus disertai penilaian. Kritik sastra tidak dapat dipisahkan dengan penilaian.



BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

    Interpretasi ini mempunyai artian makna yaitu suatu bentuk hal yang akan menyangkut mengenai bentuk laporan yang dapat berbentuk penerimaan. Di mana laporan peneriman tersebut mempunyai unsur struktural di dalamnya. Dalam aspek ini bahwasanya juga telah dimaknai dalam laporan yang terdapat dalam karya sastra tersebut sama hal nya dengan laporan-laporan yang terdapat dan berada dalam aspek lainnya. Maka ketika nantinya pembaca yang ingin melakukan penafsiran terhadap karya-karya sastra yang telah ada, maka sama artinya dengan memberikan pengertian khusus terhadap karya sastra tersebut.

Jenis-jenis ataupun ragam interpretasi terhadap karya sastra dibedakan menjadi enam bagian yaitu :

• Penafsiran yang bertitik tolak dari pendapat, bahwa teks sendiri sudah jelas.

• Penafsiran yang berusaha untuk menyusun kembali arti historic.

• Penafsiran hermeneutik.

• Tafsiran yang dengan sadar disusun dengan bertitik tolak pada pandangan sendiri mengenai sastra.

• Tafsiran yang bertitik pangkal pada suatu problematik sesuatu.

• Tafsiran-tafsiran yang tidak langsung berusaha agar secara memadai sebuah teks diartikan.




DAFTAR PUSTAKA

Layun Rampan, Korrie. 1999. Aliran-Jenis Cerita Pendek. Jakarta: Balai Pustaka, Malang: Tim UB Press

Najid, Moh. 2003. Mengenal Apresiasi Prosa Fiksi. Surabaya: Unversity Press

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian

Sardjono Pradotokusumo, Partini. 2005. Pengkajian Sastra. Jakarta: Gramedia. Sastra.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ulfah, Suroto, 2000. Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga

Warsiman. 2017. Pengantar Pembelajaran Sastra: Sajian Kajian Hasil Riset.

Wiyanto, Asul. 2005. Kesusastraan Sekolah. Jakarta: Grasindo.



Komentar