Pendekatan Ekspresif dan Pendekatan Pragmatik

 PENDEKATAN EKSPRESIF DAN PENDEKATAN PRAGMATIK


Nama : Juliana Koto

Nim : 22016185

Dosen Pengajar : Dr.Abdurahman M.Pd.

Program Studi : Pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah


BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

    Sastra merupakan cipta karya yang dibuat dan ditimbulkan oleh manusia, dimana dalam sastra ini terdapat ungkapan ekspresi yang dimiliki oleh seorang sastrawan sehingga apa-apa yang tersimpan dapat tersampaikan secara baik. Dalam sastra ini seorang sastrawan selalu menaruhkan hati, jiwa, dan perasaanya ke dalam karya sastra, sebab ketika menciptakan suatu karya sastra kemudian tidak adanya penaruhan perasaan yang dimiliki oleh seorang sastrawan maka secara tidak langsung karya sastra yang dibuat tidak akan bisa menjadi sastra yang dikatakan amat baik. Karena seorang pencipta karya sastra tidak mampu merasakan dan berada pada cerita karya sastra itu sendiri. 

    Maka dengan demikianlah bahwa ketika seorang sastrawan ingin menciptakan sebuah karya sastra maka lahiriah dan batiniah yang dimiliki oleh dirinya harus mampu dituangkan dan diposisikan ke dalam karya sastra tersebut. Sehingga nantinya imajinasi dan khayalan yang dimiliki oleh seorang penyair dapat tertuang secara mendalam. Dampaknya akan dapat dirasakan oleh seorang penikmat dan pembaca karya sastra, sehingga seorang pembaca karya sastra nantinya mampu dan dapat merasakan apa yang ditorehkan dan dituangkan oleh seorang sastrawan ke dalam karya sastra tersebut.

    Sastra ini akan dituangkan dalam bentuk media tulisan atau lisan berdasarkan kepada pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga keperasaan dalam bentuk yang imajinatif, sastra merupakan bentuk cerminan dari sebuah kenyataan atau data asli yang dibalut dalam kemasan estetis melalui media bahasa. Kemudian dalam sastra ini terdapat seorang tokoh yang memperkuat istilah yang terdapat dalam sastra. 

    Tokoh tersebut bernama Sumardjo dan Saini (1996, hlm 3) bahwasanya sastra merupakan ungkapan pribadi yang dimiliki oleh seseorang manusia, yang di dalamnya tidak adanya perpaduan pendapat dari orang lain sehingga seluruh aspek perasaan, jiwa, pengalaman yang dimiliki oleh seorang pencipta karya sastra dapat tertuangkan dan terealisasikan secara mendalam. Kemudian di dalam karya sastra ini juga terdapat suatu bentuk ide, semangat, pemikiran dan keyakinan seorang pengarang yang dituangkan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Alat berupa bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam karya sastra, tanpa adanya bahasa, maka penyaluran dalam bentuk karya sastra tidak akan bisa tersampaikan. Karena di dalam hal ini bahasalah yang akan menjadi alat dan fasilitator dalam mengungkapkan semua hal yang dirasakan dan dimiliki oleh seorang pengarang.

    Sesuai dengan analisis yang telah ada, bahwa persoalan yang paling penting dalam memahami dan mengalisis sastra adalah bagaimana cara dalam mendekatinya. Adapun bentuk-bentuk pendekatan sastra yang telah diberikan oleh Abrams ada empat (dalam Harijito, 2005:23) yaitu objektif, mimetik, pragmatik, dan ekspresif. Di dalam pendekatan ekspresif akan memerlukan data yang berasalah dari pengarang yang bersangkutan atau dari pengarang karya sastra yang diteliti. Sedangkan di dalam pendekatan pragmatik akan mempunyai kesadaran bahwa terdapatnya hubungan karya dengan seorang pembaca.


B. Rumusan Masalah

Berikut beberapa rumusan masalah yang akan dipaparkan oleh penulis dalam makalah ini:

1. Bagaimanakah pengertian dari pendekatan ekspresif?

2. Bagaimana Pendekatan ekspresif sebagai pendekatan konseptual dan metodologis?

3. Bagaimanakah langkah-langkah yang dibutuhkan dalam pendekatan ekspresif?

4. Bagaimana bentuk kelemahan yang terdapat dari pendekatan ekspresif?

5. Bagaimanakah pengertian pendekatan pragmatik?

6. Bagaimanakah bentuk sejarah dari pendekatan pragmatik?

7. Bagaimanakah metode dari pendekatan Pragmatik?

8. Bagaimanakah Prinsip-prinsip dasar pendekatan Pragmatik?

9. Bagaimana karakteristik pendekatan pragmatik dalam menelaah karya sastra?


C. Tujuan

Dari rumusan masalah diatas, disimpulkan bahwa tujuan dari penulisan makalah ini yaitu : 

1. Dapat mengetahui pengertian dari pendekatan ekpresif.

2. Dapat memahami pendekatan ekspresif sebagai pendekatan konseptual dan metodologis.

3. Dapat mengetahui langkah-langkah yang dibutuhkan dalam pendekatan ekspresif.

4. Dapat memahami pengertian dari pendekatan pragmatik.

5. Dapat mengetahui dan memahami bentuk-bentuk sejarah dari pendekatan pragmatik.

6. Dapat mengetahui metode dari pendekatan pragmatik.

7. Dapat memahami prinsip-prinsip dasar pendekatan pragmatik.

8. Dapat mengetahui dan memahami karakteristik dari pendekatan pragmatik dalam melaah karya sastra.

9. Dapat mengetahui karakteristik Pendekatan Pragmatik dalam menelaah karya Sastra



BAB II

PEMBAHASAN


1. Pengertian Pendekatan Ekspresif

    Pendekatan ekspresif adalah pendekatan karya sastra dengan jalan menghubungkan karya satra dengan pengarangnya. Pendekatan ekspresif menitik beratkan pengarang, dan orientasi ekspresif memandang karyasastra sebagai ekspresi, luapan, ucapan perasaan, sebagai hasil imajinasi pengarang, pemikiran-pemikiran, dan perasaan. Orientasi ini cenderung menimbang karya sastra dengan keasliannya, kesejatiannya, atau kecocokannya dengan keadaan pikiran dan kejiwaan pengarang. 

    Pendekatan ekspresif ini memandang bahwa karya sastra sebagai pernyataan dunia batin pengarang. Artinya adalah seluruh isian yang terdapat di dalam batin seorang pengarang akan dikutip dan dikaji dalam hal ini, batin seorang pengaranglah yang akan menjadi landasan utama dalam pendekatan ekspresif ini. Apabila segala bentuk gagasan, citra rasa, emosi, ide, serta angan-angan merupakan dunia dalam pengarang, maka dengan itulah karya sastra akan menjadi dunia luar uang bersesuaian dengan dunia dalam hal itu.


2. Pendekatan Ekspresif Sebagai Pendekatan Konseptual dan Metodologis

Di dalam hal ini penempatan-penempatan pendekatan ekspresif ini dijadikan penempatan kepada aspek karya sastra sebagai :

 Wujud ekspresi pengarang

    Dalam pendekatan ekspresif akan memberikan pandangan pembaca yang akan tertuju kepada ekspresi pengarang. Ekspresi pengarang merupakan perwujudan dari munculnya karya sastra tersebut. Sehingga seluruh elemen yang ada akan dituangkan secara indah, dan diiringin dengan kefaktualan yang ada pada karya sastra itu sendiri. Kemudian pada pendekatan ini yang mengistilahkan sebagai bentuk perwujudan dari ekpresi pengarang, jika dipandang dari aspek pendekatan ekspresif, bahwasanya di dalam pendekatan ekspresif ini akan memberikan suatu bentuk kajianya yang akan terpicu kepada unsur yang dimiliki pengarang, diantara hal itu ialah ekspresi dari seorang pengarang. Unsur keindahan yang muncul, estetis dapat muncul disebabkan karena adanya torehan ekspresi yang dimiliki oleh seorang pengarang.

 Produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran-pikiran dan perasaan-perasaaanya.

    Produk imajinasi adalah suatu kiasan yang dimaknai sebagai hasil bentuk penciptaan yang ada pada sastrawan, artinya adalah imajinasi yang ditorehkan ke dalam karya sastra yang ada akan selalu timbul dan terfasilitasi dengan produk yang berupa imajinasi. Hal yang menempati posisi di dalam imajinasi tersebut adalah berupa persepsi, pikiran, dan perasaan dari pengarang, seluruh elemen ini berasal dari imajinasi, dan hal itu isi dari imajinasi tersebut. Maka dengan demikianlah prduk imajinasi yang bekerja di dalam karya sastra ini akan dikaji dalam pendekatan ekpresif.

 Produk Pandangan Dunia Pengarang.

    Pada aspek yang ketiga ini memposisikan pendekatan ini sebagai struktural yang berupa dunia dari seorang pengarang. Maka cangkupan yang akan dikaji seluk-beluk yang ada pada diri dan kehidupan pengarang. Ini merupakan suatu aspek yang begitu luas nantinya ilmu yang akan didapatkan di dalam hal ini, sebab akan banyak ilmu pengetahuan yang akan di dapatkan pada pendekatan ekspresif. 

 

3. Langkah-langkah yang Dibutuhkan dalam Pendekatan Ekspresif

    Bahwasanya di dalam hal ini sesuai dengan pendapat yang telah diterangkan oleh Ambrams terdapat beberapa langkah-langkah yang dibutuhkan dalam pendekatan ekspresif terhadap karya sastra, sebagai berikut :

 Adapun langkah yang paling utama dilakukan adalah pengenalan dan pemahaman terhadap obyek yang nantinya akan dianalisis dengan cara membaca hal tersebut dengan cermat karya sastra yang akan dianalisis untuk dapat menemukan masalah-masalah yang penting dalam karya sastra. Penemuan masalah yang akan berada dalam karya sastra tersebut akan mampu untuk ditemukan tanpa adanya rasa kesukaran di dalamnya. Pengenalan juga termasuk langkah awal yang harus ditempuh untuk dapat mengetahui masalah apa yang nantinya akan dikaji. 

 Cara yang akan dapat dilakukan selanjutnya adalah berupa pengumpulan terhadap perpustakaan. Dari segi pengumpulan perpustakaan yang ada haruslah disesuaikan dan dikaitkan dengan struktural yang ada pada karya sastra. semua hal ini bertujuan untuk dapat menunjang dan merepresentasikan semua aspek yang terdapat di dalam karya sastra tersebut. 

 Kemudian langkah yang dapat dilakukan pada tahapan selanjutnya adalah pemahaman yang dilakukan secara mendalam dan mendetail mengenai pengarang yang selalu disesuaikan dengan data-data yang diperlukan. Sesuai dengan konsep yang ada dalam pendekatan ekspresif ini data yang nantinya akan menjadi landasan dalam pengkajian adalah berupa data-data diri dan data pribadi dari kehidupan pengarang.  


4. Kelemahan dari Pendekatan Ekspresif

    Secara umum dijelaskan bahwa kelemahan dari pendekatan ekspresif adalah cenderung menyamakan secara langsung realitas yang ada dalam karya sastra dengan realitas yang dialami sastrawan atau pengarang. Dapat dipisahkan bahwasanya realitas yang terdapat di dalam karya sstra tentu berbeda dengan realitas yang dimiliki oleh pengarang. Dengan demikianlah perbedaan diantara kedua hal tersebut adalah. 

 Dalam realitas karya sastra, pada realitas yang ada pada karya sastra merupakan hasil konstruksi yang diciptakan oleh seorang sastrawan, dimana sastrawan telah mengolah sedemikian rupa bentukan dan aspek yang membuat realitas dalam sastra dapat diyakini dan diperhatikan oleh pembaca, padahal semestinya di dalam karya sastra tidaklah ada unsur yang nyata di dalamanya, tetapi hal yang ada adalah unsur pemikiran imajinasi manusia atau pengarang yang ditirukan dari kehidupan seorang pengarang. Hal adalah sesuatu hal yang harus digaris bawahi. 

 Dalam realitas pengarang, adalah suatu bentuk realitas yang benar-benar faktual, karena sebagai pembaca akan menganalisis realita kehidupan yang dimiliki oleh seorang pengarang, dan biasanya tidak ada penimbangan yang merusakan realitas dalam pengarang itu sendiri. Hal inilah yang membedakan antara realitas yang ada pada sastrawan dengan realitas yang ada pada karya sastra. maka tidak mungkin kedua aspek ini digabungkan dan disamakan, karena kedua hal tersebut memiliki unsur yang berbeda-beda.


5. Pengertian Pendekatan Pragmatik

    Pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca, seperti tujuan pendidikan, moral agama atau tujuan yang lainnya. Pendekatan pragmatik mengkaji karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan tujuan-tujuan tertentu bagi pembacanya. Semakin banyak nilai-nilai, ajaran-ajaran yang diberikan kepada pembaca maka semakin baik karya sastra tersebut.

    Definisi lain mengatakan bahwa pendekatan pragmatik adalah pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan kajiannya terhadap peranan pembaca dalam menerima, memahami, dan menghayati karya sastra.

Sedangkan menurut para ahli mendefinisikan pendekatan pragmatik adalah sebagai berikut:

 Menurut Teeuw, 1994 teori pendekatan pragmatik adalah salah satu bagian ilmu sastra yang merupakan pragmatik kajian sastra yang menitik beratkan dimensi pembaca sebagai penangkap dan pemberi makna terhadap karya satra.

 Relix Vedika (Polandia), pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang tak ubahnya artefak (benda mati) pembacanyalah yang menghidupkan sebagai proses konkritasi.

 Dawse dan User 1960, pendekatan pragmatik merupakan interpensi pembaca terhadap karya sastra ditentukan oleh apa yang disebut “horizon penerimaan” yang mempengaruhi kesan tanggapan dan penerimaan karya sastra. Pendekatan ini menganut prinsip bahwa sastra yang baik adalah sastra yang dapat memberi kesenangan dan kaidah bagi pembacanya dengan begitu pendekatan ini menggabungkan unsur pelipur lara dan unsur dedaktif. Pemanfaatan pendekatan ini harus berhadapan dengan realitifitas konsep keindahan dan konsep nilai dedaktif. Setiap genersai, setiap kurun tertentu diharuskan menceritakan nilai keindahan hal itu tidak berarti bahwa interprestasi hanya subjektif belaka.


6. Sejarah Pendekatan Pragmatik

    Pada tahun 1960 muncul dua orang tokoh ilmu sastra di Jerman Barat kedua tokoh itu adalah Hans Robert dan Wolfgangler. Keduanya mengembangkan ilmu sastra yang memberikan penekanan terhadap pembaca sabagai pemberi makna karya satra.

    Pada tahun 1967 (Teeuw, 1984: 5) ia mengatakan bahwa penelitian sejarah di Eropa sejak lama telah melalui jalan buntu. Hal ini karena pendekatan penulisan sejarah sastra tidak berdasarkan situasi zaman sejak zaman Romantik, dengan adanya paham Nasionalisme, maka pendekatan penulis sejarah sastra disejajarkan dengan sejarah nasional, dan pendekatan lain yang tidak menghiraukan dinamika sastra terus menerus, entah pada suatu bangsa, suatu periode, suatu angkatan dan suatu zaman.

    Hal yang diterima dan dipahami oleh pembaca berpengaruh besar pada perkembangan karya sastra selanjutnya, baik dari segi estentik maupun dari segi sejarah, dari segi estentik karya sastra sebagai seni, pembaca akan menentukan apakah estentik yang mendasari karya sastra diterima atau ditolak. Oleh sebab itu yang dipentingkan dalam pendekatan yang menekankan peranan pembaca sebagai pemberi makna bukanlah atau keindahan abadi suatu karya sastra, melainkan penerimaan karya sastra pada waktu dan tempat yang berbeda-beda.

    Tokoh utama dalam karya sastra yang menekankan peranan pembaca ialah Hans Robert Jousz dalam makalahnya yang bejudul literature alas provocation (sejarah sastra sebagai tantangan). Ia melancarkan gagasan-gagasan baru yang sempat menggoncangkan dunia. Ilmu sastra tradisional setelah memberi ringkasan mengenai sejarah sastra antara lain dari aliran marsisme dan formalisme. Menghilangkan faktor yang terpenting dalam proses semiotik yang disebut kesusastraan sastra, dan sikap komunikasinya yang mrnggambarkan hubungan dialog dan proses antara karya sastra dan pembaca. Yaitu pembacalah yang menilai, menafsirkan, memahami dan menikmati karya sastra untuk menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah dan estetis.

    Peneliti sejarah sastra bertugas menelusuri resepsi karya sastra sepanjang zaman, keindahan dalam pengertian yang bergantung pada situasi dan latar belakang sosio budaya sipembaca dan ilmu sastra harus meneliti hal itu.


7. Metode Pendekatan Pragmatik

    Penelitian resepsi pembaca terhadap karya sastra dapat menggunakan beberapa meatode pendekatan, antara lain pendekatan yang bersifat eksperimental, melalui karya sastra yang mementingkan karya sastra yang terikat pada masa tertentu ada pada golongan masyarakat tertentu.

 Kepada pembaca, perorangan atau kelompok disajikan atau diminta pembaca karya sastra, sejumlah pertanyaan dalam teks atau angket yang berisi tentang permintaan, tanggapan, kesan, penerimaan terhadap karya yang dibaca tersebut untuk diisi jawaban-jawaban itu nanti ditabulasi dan dianalisis.

 Kepada pembaca perorangan atau kelompok, diminta pembaca karya sastra, kemudian ia diminta untuk menginterpretasikan karya sastra tersebut. Interpretasi-interpretasi yang dibuat tersebut dianalisis secara kualitatif untuk meliha bagaimana penerimaan atau tanggapan terhadap karya sastra.

 Kepada masyarakat tertentu diberikan angket untuk melihat prestasi mereka terhadap karya sastra, misalnya melihat prestasi sekelompok kritikus terhadap kontenporer persepsi masyarakat tertentu terhadap karya sastra daerahnya sendiri.


8. Prinsip Dasar Pendekatan Pragmatik

    Landasan pendekatan pragmatik adalah bertolak dari teori resepsi sastra, maka landasan dasarnyapun dalam mengkaji karya sama dengan tempat ia berpijak tersebut. Sebagai suatu pendekatan dalam memahami karya sastra, pragmatisme mempunyai prinsip sebagai berikut.

 Otonomi karya sastra dianggap tidak relevan dalam kajian karya sastra, karena terlalu menganggap karya sastra sebagai struktur yang otonom. Padahal karya sastra tersebut tidak mempunyai kewujudannya sendiri sampai dibaca. Karena itu untuk dapat memahami sebuah karya sastra, pendekatan pragmatik tidak terlalu terikat pada struktur sastra semata, melainkan juga kepada faktor yang ada pada diri pembaca secara kontekstual. Oleh karena itu, bentuk telaahnya kompleks daripada pendekatan struktural yang hanya tertuju pada bangun struktur saja.

 Pendekatan pragmatik memkitang karya sastra sebagai artefak, pem-bacalah yang menghidupkannya melalui proses konk-retisasi. Karya sastra hanya menyediakan tkita atau kode makna, sedangkan makna itu sendiri diberikan oleh pembaca. Karya sastra tidak mengikat pembaca, tetapi menyediakan tempat yang kosong untuk diisi oleh pembaca. Maksudnya adalah bahwa teks sastra seperti puisi tidak pernah mempunyai makna yang terumus dengan sendirinya, sehingga diperlukan tin-dakan pembaca untuk merumuskannya.

 Pembaca bukanlah pribadi yang tetap dan sama, melainkan sela-lu berubah dan berbeda. Oleh karena pembaca dalam melakukan proses pemahaman dipengaruhi oleh horison penerimaannya, maka subjektivitas pembaca mungkin berbeda antara satu dengan lainnya. Itulah sebabnya teknik telaahnya pragmatis dan dialektik.

 Teks sastra selalu menyajikan ketidakpastiaan makna, sehingga memungkinkan pembaca untuk memaknai dan memahaminya secara terbuka lebar (Teeuw 1984; Junus 1985; Salden 1986; dan Jefferson & Robey 1988). Ketidakpastiaan iitulah mengapa pangkal tolak telaah pendekatan pragmatik ini dalam mengapresiasi karya sastra pada persepsi pembaca.


9. Karakteristik Pendekatan Pragmatik dalam Menelaah Karya Sastra

    Bertolak dari hakikat dan prinsip dasar pendekatan pragmatik di atas, dapat dirumuskan bahwa pendekatan pragmatik dalam menelaah karya sastra adalah sebagai berikut.

 Asumsi dasar pendekatan pragmatik memkitang bahwa karya sastra sesuatu yang bersifat artefak. Ia merupakan suatu benda yang belum mempunyai jiwa, dan baru mempunyai jiwa bila dinikmati atau dipahami.

 Bentuk telaah kompleks, karena dalam menentukan makna atau unsur intrinsik, melainkan juga unsur ekstrinsik seperti pengarang, pembaca dan genetik karya sastra.

 Dalam menelaah, unsur yang menjadi objek telaah mencakup seluruh unsur, baik fisik maupun unsur batin dan unsur-unsur lain yang dapat dijadikan acuan untuk mengkongkretisasikan makna yang abstrak.

 Proses telaah dimulai dari resepsi personal pembaca keseluruhan bagian dan mencari hubungan struktur bagian kemudian menempatkan struktur keseluruhan menjadi struktur bagian dalam struktur yang lebih besar untuk dapat dikonkretisasikan melalui proses redeskripsi.

 Teknik telaah pragmatis dan dialektik, yaitu dengan melibatkan pengalaman pembaca, pengarang, di samping unsur intrinsik yang menjadi acuan telaah.

 Dasar pertimbangan dalam penentuan makna adalah perpaduan unsur intrinsik dengan unsur ekstrinsik serta faktor genetik dan pengalaman yang dipunyai pembaca.

 Pangkal tolak telaah dari resepsi pembaca terhadap unsur bangun karya sastra.

 Esensi karya sastra adalah makna setiap unsur, hubungan antara unsur dan keterpaduannya dihubungkan dengan konteks kesemestaan dan sistem kognisi pembaca.

 Unsur pengarang dan pembaca dipertimbangakan dalam menelaah sebagai bagian dari genetik untuk kesempurnaan makna.



BAB III

PENUTUP


Kesimpulan

    Sastra ini terbagi menjadi empat pendekatan yang paling banyak dikenal dan diketahui oleh masyarakat umum, diantara pendekatan tersebut terdiri dari : pendekatan ekpresif, pendekatan pragmatik, pendekatan mimetik dan pendekatan objektif. Pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang tergolong kedalam pendekatan karya sastra, dalam pendekatan ekspresif akan mengkaji dan membahas karya sastra yang diciptakan oleh seseorang pengarang. Dalam pengkajian pendekatan ekspresif ini akan lebih memfokuskan dirinya untuk mengkaji sastrawan sebagai pelaku pencipta karya sastra.  Setiap peneliti sastra dituntut cermat memilih dan menentukan pendekatan penelitian. Penentuan pendekatan berpengaruh pada teori serta penerapan penelitian. Seperti halnya teori yang digunakan untuk membedah karya sastra yang dinamis dari waktu ke waktu, pendekatan penelitian (sastra) pun berkembang cukup dinamis.





DAFTAR PUSTAKA

Sari, Lili Nur Indah. Analisis puisi karya amir hamzah dengan pendekatan ekspresif. Diss. 2018.

Aminuddin. 2013. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: Sinar Baru.

Pradopo, Rahmat Djoko. 2009. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: UGM Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2012. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka

Siswanto, wahyudi. 2008. Pengantarteorisastra. Grasindo : Jakarta. Hlm.178

Zainuddin Fananie. Telaah Sastra. (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2002). h. 112.

Mario klerer. 1999. An introduction to literary studies. Rout ledge

Atar Semi, Metode Penelitian Sastra, (Bandung: Angkasa, 2012), h. 84

Zainuddin Fananie. Telaah Sastra. (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2002).

http://robiramadhan22.blogspot.com/2014/12/pendekatan-pragmatik-a.html



Komentar