PENDIDIKAN SASTRA, MATERI SASTRA, DAN STRATEGI PEMBELAJARAN SASTRA
Nama : Juliana Koto
Nim : 22016185
Dosen Pengampu : Dr. Abdurahman, M.Pd.
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran sastra merupakan bagian dari pembelajaran bahasa. Dimasukkannya pembelajaran sastra ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia kiranya dapat dimaklumi, karena secara umum, sastra adalah segala sesuatu yang ditulis. Pengertian semacam itu dianggap terlalu luas dan juga terlalu sempit. Dianggap terlalu luas karena, dengan demikian, semua buku termasuk sastra. Dianggap terlalu sempit dengan keberatan bahwa macam balada yang dinyanyikan dan cerita yang dibacakan, dengan demikian, tidak termasuk dalam sastra (Sumaryadi, 2008).
Pembelajaran sastra penting bagi siswa karena berhubungan erat dengan keharuan. Sastra dapat menimbulkan rasa haru, keindahan, moral, keagamaan, khidmat terhadap Tuhan, dan cinta terhadap sastra bangsanya (Broto, 1982:67). Fungsi sastra kiranya tidak perlu diragukan lagi. Sastra dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir orang mengenai hidup, baik dan buruk, benar dan salah, dan cara hidupnya sendiri dan bangsanya (Soeharianto, 1976: 25). Dengan demikian, secara hirarkis akan dikemukakan adanya tiga tataran, yaitu: pendidikan dan pengajaran, materi, dan strategi pembelajaran dalam sastra.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah pendidikan yang dapat dilakukan dalam sastra?
2. Bagaimana Materi yang terdapat dalam Sastra?
3. Bagaimanakah bentuk strategi dalam membelajarkan sastra?
C. Tujuan
1. Dapat mengetahui pendidikan yang dapat dilakukan dalam sastra.
2. Dapat memahami materi yang terdapat di dalam sastra.
3. Dapat mengetahui bentuk-bentuk strategi dalam membelajarkan sastra.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pendidikan Sastra
Sastra merupakan suatu bentuk cerminan kehidupan manusia yang dituangkan melalui pemikiran dan imajinasi seseorang. Dimana dalam sastra tersebut akan banyak mengandung nilai-nilai terkait tentang segala bentuk aspek kehidupan manusia. Banyak yang mengungkapkan bahwasanya sastra ini merupakan suatu penggambaran dari kehidupan manusia yang dituangkan dalam bentuk media bahasa baik berupa tulisan maupun tuturan. Karya sastra akan memberikan manfaat yang sangat luar biasa bagi kehidupan manusia. Dimana dalam karya sastra tersebut, penorehan kehidupan manusia akan tertuangkan secara mendalam, karena unsur perasaan dan jiwa serta hati manusia akan berada pada posisi sastra tersebut. Maka dengan demikianlah sastra akan mampu memberikan pelajaran dan ibrah yang cukup banyak tentang kehidupan-kehidupan yang dijalankan oleh semua manusia. Bentuk aspek nilai yang terkandung di dalam sastra ialaha berupa nilai mora, akhlak, dan budi pekerti, semua aspek ini akan tergambarkan di dalam karya sastra, semua hal tersebut sesuai dengan penorehan dan imajinasi pengarang dalam menuangkan ke dalam bentuk lisan mapun tulisan.
Di dalam hal ini Luxemburg dan dkk, mengungkapkan terkait sastra tersebut. Bahwasanya mereka mengatakan sastra merupakan teks yang didalamnya mengandung unsur fisionalitas, kemudian diolah secara istimewa, dapat dibaca menurut tahap artian yang berbeda-beda, dan termasuk teks-teks yang tidak melulu disusun untuk tujuan komunikatif. Kemudian pada aspek ini juga dinyatakan bahwasanya sastra merupakan segala bentuk aspek yang dituangkan ke dalam bentuk tertulis, yang dibatasi pada maha karya. Karya sastra juga termasuk ke dalam bagian ungkapan perasaan yang dituangkan oleh seorang pengarang dalam bentuk media bahasa, hal ini sesuai dengan pendapat yang telah dikemukakan oleh (Renne Wellek dan Austin Warren).
Pendidikan di dalam sastra in bukan hanya sekedar mengajarkan sesuatu hal yang beruapa pengetahuan yang akan selalu menyangkut tentang sastra seperti teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra. Tetapi hal lain yang terdapat dalam pendidikan sastra ini adalah untuk dapat mendorong dan mengiringi seorang terdidik agar dapat mencintai menyukari setiap ciptaan-ciptaan karya sastra yang telah dihasilkan oleh para sastrawan yang sangat luar biaasa berjasa dalam pembuatan karya sastra tersebut. Hal tersebut adalah suatu bentuk rasa terimakasih yang dapat kita berikan kepada orang-orang yang mencitprakan karya sastra itu sendiri. Maka sebagai orang-orang yang terdiidik haruslah dapat untuk menghayati setiap karya sastra yang diciptakan oleh para sastrawan kita. Sebab sebagaimana di dalam pengetahuan yang kita dapatkan menciptakan karya sastra bukanlah sesuatu hal yang sangat mudah. Tetapi banyak pengorbana dan jerih payah yang dilalui agar dapat menciptakan satu karya sastra dalam sastra tersebut. Dengan demikianlah bahwasanya pembelajaran sastra bukanlah suatu pembelajaran yang dapat menunutut siswa dapat memahami seluruh aspek dan elemen yang terdapat di dalam karya sastra tersebut. Tetapi bagaimana caranya agar dapat memposisiskan diri sendiri nantinya hingga dapat menciptakan karya sastra dengan sendirinya. Maka dalam bentuk media penghafalan terhadap istilah-istilah sastra bukanlah sesuatu hal yang harus dikuasai bagi orang-orang yang mempelajari ilnu sastra tersebut, tetapi di dalam aspek ini yang palin gutama adalah bagaimana caranya agar dapat membangun kecintaan para terdididi terhadap karya sastra yang telah ada atau belumn ada. Mengapa demikian. Sebab ketika nantinya tidak ada satu orang pun yang mencintai karya sastra tersebut. Maka secara tidak langsung, dari waktu ke waktuu karya sastra tersebut akan semakin lenyap dan hilang. Karena tidak ada rasa kecintaan manusia yang ditorehakn dalam sastra tersebur. Ketika ada rasa sayang dan cinta manusiai terhadap karya sastra tersebut maka dirinya akan menjaga dan menjaga sastra tersebut sebagaimana menjaga dirinya mestinya. Maka keutuhanan sastra ini haruslah ditanamkan dan di pupuk dari generasi ke generasi selanjutnya. Sebab ketika kaya sastra tersebut hanya memiliki sifat stagnan maka kita akan sulit dalam merealisasaikan karya sastra yang berikutnya.
Terdapat sebuah keuntungan yang akan didapatkan dari mencintai karya sastra ini adalaha agar sebagai penikmat dan penanti setia dari karya sastra dapat merasakan kenikmatan dan mengambil pelajaran-pelajaran yang terdapat di dalam karya sastra tersebut, biaasanya pelajaran yang terdapat dan berada di dalam karya sastra tersebut adalah sebuah pelajaran yang akan sangat berarti bagi semua manusia. Kareana terdapat penorehan kisah kehidupan-kehidupan yang pernah di alami oleh tokoh pengarang, makanya banyak pengajara dan pelajaran yang terdapat di dalam karya sastra tersebut.
Pada hakikatnya di dalam ruang lingkup karya sastra ini hal yang berada di dalamnya adalah hal yang berupa praktik pembelajaran sastra yang bukanlah sebagai sesuatu hal yang mesti untuk dimanfaatkan sebagai karya yang indah dan bermanfaat, tetapi di dalam karya sastra tersebtu bahwasanya telah banyak karya sastra yang menujukan pergerakan dalam berorientasi pada nilai pengetahuan tujuan dari hal ini adalah untuk dapat memperoleh nilai-nilai ujian karena materi yang berada di dalam karya sastra ini pada hakikanya digabungkan dengan materi bahasa. Di dalam dunia pendidikan karya sastra ini, bahwasanya sastra mengalami suatu sifat yang dinamakan dengan sifat kekeringan, hal yang dapat memicu terjadinya sebuah tragedi ini adalah disebabkan karena. Ketiak dalam mengamati suatu karya sastra semua orang ingin mengharapkan suatu hal dalam batasan untuk diketahui saja. Bukan untuk dinikmati dan dihayati kemudian nilai karakter yang ada di dalam karya sastra tersebut adalah nilai yang dapat diamalkan bagi kehidupan pembaca dan penikmat karya sastra.
Di dalam dunia pendidikan pembelajaran karya sastra ini bahwasanya seorang guru lebih cenderung menggunakan dan mencari alat alternatif lain untuk memannfaaatkan karya siswa atau guru sebagai bahan ajar. Selain itu, bentukan model yang digunakan dalam pembelajaran ini pada mestinya karya sastra tersebut kutang menarik dan terkesan membosankan sehingga siswa menjadi kurang menyukai pelajaran dari sastra. pembelajaran yang diajarkan oleh seorang guru akan menentukan hasil dari penghasilan yang akan didapatkan oleh siswa tersebut. Ketika nantinya seorang guru mampu mengaktualisasikan pemikiran serta pemahamanya kepada aspek pengajaran dalam sastra, maka ketika saat itulah kebosanan yang dialami oleh siswa akan dapat teratasi.
Permasalahan dalam pengajaran sastra yang terdapat di dalam pendidikan bukan semata-mata hanya mengacu kepada aspek yang telah ada, tetapi bagaimana caraya agar sebagai pendidik dapat memberikan model pembelaran yang baik. Dalam memberikan pengajaran terhadap sastra ini yang dituntut bukanlah penguasaan materi terhadap sastra tersebut, tetapi hal yang akan dituntut nantinya adalah bagaimana caranya agar terdidik dapat menghasilkan dan meronkstruksi karya karya yang terdapat dalam sastra. Sarana yang disediakan dalam dunia pendidika tersebut hanyalah sebagai tolak ukur atau bahan tambahan dalam pengajaran sastra nantinya. Terkadang kebanyakan pendidik melakukan pembelajaran yang sesuai dengan hal yang telah ada, maka dirinya menerapkan kepada terdidik, hal tersebut bukanlah hal yang cukup baik untuk dilakukan. Karena kreafitas terdidik harus di nomor satukan. Apalagi dalam pembelajaran sastra, yang pengarahanya lebih dituntut untuk dapat menghasilkan suatu karya sastra nantinya. Dalam menghasilkan ada bimbingan-bimbingan yang akan diberikan oleh pendidik, tetapi bimbingan tersebut bukan stagnan pada suatu objek kajian saja. Tetapi bagaimana caranya agar terdidik juga dapat menghasilkan karya sastra yang sesuai dengan karya sastra yang kita miliki. Adapun pendapat yang telah dikemukakan oleh (Rohman, 2012:15). Bahwasanya dirinya mengatakan dalam pengajaran yang diberikan oleh seorang pendidik bukan hanya pada pranata yang sudah ada, melainkan terletak pada posisi pemahaman tentang hakikat pengajaran dari sastra itu sendiri. Ketika nantinya semua akan hal ini dapat terjalankan secara baik maka terdidik akan dapat membuat dan menciptakan karya sastra tersebut. Dari pernyatan yang telah diungkapkan tersebut. Hal yang diterapkan bukanlah hal semata yang menuntut untuk dapat menguasai seluruh konsep-konsepk teori tentang ilmu sastra dan konsep tentang teori pemahaman bentuk-bentuk sastra. Semua hal ini bukanlah hal yang paling utama dituntut bagi seorang terdidik, dimana dirinya dipakasakan untuk menghafal sejarah sastra yang ada, dimulai dari sastra tersebut terbentuk hingga masa sekarang ini. Hal tersebut bukanlah suatu hal yang baik untuk diterapkan karena materi tak akan pernah berarti ketika tidak pernah terjun ke dalam isi dari sastra itu sendiri. Artiyan adalah tuntutan siswa untuk dapat terjun dan menempunh ke dalam dunia sastra dan mampu dalam mengonstruksikannya, maka hal inilah bentuk keberhasilan yang benar-benar dikatakan berhasil. Pengusaan dalam materi tersebut bisa saja dipelajari dan dipahami secara sendirinya. Tetapi hal yang sangat berperan penting di dalam hal ini adalah, bagaimanan caranya agar seorang terdidik dapat menyentuh dan berada pada posisi proses pembuatan karya sastra tersebut.
Begitupun terkait dengan sejarah yang hanya bertujuan untuk menghafal seluruh periodesasi atau pembabakan dari waktu kewaktu. Melihat dan mengetahui perkembangan yang terjadi pada sejarah tersebut. Tetapi dalam aspek ini bukanlah memberikan arahan untuk dapat memperkenalkan kepada isi kekayaan budaya bangsa yang terkandung di dalam setiap periode dalam penciptaan karya sastra itu. Maka dengan demikianlah terdapat sebuah penagasan di dalam pendidikan sastra bahwasanya dalam penerapan pembelajaran siswa di sekolah terkait dengan sastra haruslah dapat memberikan unsur pengetahuan, menikmati, dan menghayati dari karya sastra tersebut. Ketika ketiga unsur ini dapat di pahami dan diterapkan di dalam kehidupan manusia maka akan terus berkembang karya sastra tersebut. Apalagi dengan adanya karya sastra tersebut dengan menyandingkan unsur meghayati di dalamnya, maka perasaan serta jiwa manusia akan terbawa di dalam alunan karya sastra tersebut. Misalkan di dalam karya sastra yang berbentuk puisi, ketika di dalam karya yang berbentuk puisi tersebut disandingkan unsur menghayati dan menikmati karya sastra tersebut maka isi dan makna yang terkandung dalam karya sastra tersebut dapat terungkap dan diketahui dengan jelas. Aspek ini merupakan bentuk aspek yang harus diperhatikan di dalamnya. Karena orang-orang yang akan mamberikan penyandingan kepada unsur penjiwaan yang dimilikiny maka dirinya akan dapat merasakan hal-hal yang terjadi dan terdapat di dalam karya sastra berupa puisi tersebut. Sehingga nantinya akan dapat mengambil ibrah atau pelajaran-pelajaran yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Semua akan hal ini tergantung kepada aspek yang berup rekonstruksi karya sastra, artinya adalah kemampuan terdidik dalam menciptakan karya-karya sastra yang baik dan menarik. Maka dengan inilah bentuk pendidikan terhadap sastra sangat penting untuk diperlakukan di dalam kehidupan manusia, sebab sastra lah yang akan memberikan gambaran berupa keindahan di dalam kehidupan manusia, walaupun sastra merupakan hasil tiruan dari hasil yang sebenar berada dalam kehidupan ini. Tetapi karya sastra ini akan selalu memberikan pencerahan terbaik dalam hidup manusia, dimana karya sastra berupa drama misalkan, bahwa karya sastra ini mengandung banyak makna jika semua orang dapat menghayati dan berada dalam karya sastra tersebut.
2. Materi yang Terdapat Dalam Sastra
a. Pengertian Sastra
Kata sastra ini terdapat dalam bahasa Indonesia, hal yang sebarnya bahwasanya asal usul bahasa ini berasal dari bahasa sansekerta yaitu “Shastra”. Di dalam aspek ini bahwasanya kata “sas” mempunyai arti makna yaitu instruksi atau pedoman. Kemudian di dalam kata “tra” mempunyai artian yaitu alat atau sarana. Adapun penjabaran yang terkait dengan cara pemakaiannya, dalam kata sastra sering kali ditambahkan pada bagian awal kata tersebut ditambahkan dengan kata su sehingga penggabungan antara kedua kata tersebut menjadi susastra. Adapun dalam artinya kata dan arti makna dari kata su tersebut adalah baik atau indah. Maka dengan demikianlah dapat disimpulkan bahwa susastra merupakan hasil karya yang baik dan indah. Dalam artian ini bermaksud maka sesuatu hal harya cipta manusia yang dihasilkan dari imajinasi dan pemikiran serta penjiwaan yang dimiliki oleh dirinya, dimana di dalamnya terkandung dan terdapat sebuah makna khusus yang memiliki nilai estetika dan nilai keindahan di dalamnya.
Banyak sekali pendapat ahli yang mengemukakan terkait dari pembahasan sastra ini, baik dari segi pengertian sastra maupun bagian-bagian yang terdapat di dalam karya sastra tersebut. Disini diantaro tokoh yang mengungkapkan tentang pengertian sastra, sebagai berikut :
• Menurut Plato, Sastra merupakan suatu hasil tiruan dari kenyataan (mimesis). Artinya adalah panduan ataupun pedoman utama yang dijadikan dalam karya sastra ini merupakan kenyataan yang ada pada kehidupan manusia.
• Kemudian sesuai dengan pendapat yang telah dikemukakan oleh Sapardi Djoko Damono (1979). Sastra merupakan suatu hal yang berbentuk dan tergolong ke dalam bagian Lembaga sosial dimana di dalam sastra ini menggunakan bahasa sebagai alat medium untuk menyampaikan sesuatu hal. Dalam menyampaikan sesuatu tersebut tidak mungkin rasanya dengan isyarat, apalagi terkait dengan sastra yang nilia keindahannya terdapat pada bentuk penyampaian dan penulisan yang diberikan oleh pengarang dalam sastranya, kemudian di dalam karya sastra inilah bahasalah yang dijadikan sebagai bentuk bahan dalam menyampaikan suatu imajinasi dan gagasan pengarang.
• Terdapat pendapat lain yang dikemukakan oleh Mursal Esten (1978) bahwasanya dirinya berpendapat mengenai sastra. Sastra merupakan pengungkapan dari fakta artistic dan imajinatif sebagai bentuk perwujudan (manifestasi) dari kehiduapan manusia dan masyarakat. Artinya adalah penggabungan antara pengungkapan berupa fakta dan imajinatif di dalam hal ini terdapat kesatuan dan perpaduan di dalamnya.
• Kemudian, menurut Taum (1997) diirnya memberikan pendapat bahwasanya sastra merupakan karya cipta atau fiksi yang berbentuk karangan imajinatif dan menggunakan bahasa-bahasa yang indah. Serta aspek yang terkandung di dalamnya dapat berguna bagi masyarakat dan kehidupan manusia lainnya.
• Disisi lain, terdapat pendapat yang telah dikemukakan oleh Semi terkait dengan pengertian dari sastra ini. Semi (1988) mengatakan bahwasanya sastra merupakan bentuk hasil dari pekerjaan seni secara kreatif yang menggunakan manusia dan kehidupannya sebagai objek sastra. Maksudnya adalah di dalam aspek ini manusia dan kehidupan manusia akan menjadi tokoh utama dalam pembuatan karya sastra ini.
b. Fungsi Sastra
Di dalam materi selanjutnya yang akan terdapat di dalam sastra ini adalah fungsi dari karya sastra. menurut pendapat Kosasih (2012) bahwasanya sastra ini mempunyai beberapa fungsi yang digolongkan dalam lima besar, yakni sebagai berikut :
• Fungsi Rekreatif
Karya sastra akan selalu memberikan rasa kesukaran berupa kesenangan, kegembiraaan, serta mampu untuk menghibur bagi orang-orang yang menikmati isi bacaanya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah agar dapat menemukan unsur keindahan, kegembiraan di dalam karya sastra tersebut.
• Fungsi Didaktif
Funsif didaktif merupakan suatu bentuk aspek fungsi yang akan mengutarakan hal terkait dengan pengajaran yang dapat mendidik pembacanya. Di dalam aspek ini dijelaskan bahwasanya karya sastra bukanlah suatu unsur materi yang akan selalu membahasa mengenai fiksi yang menghibur, disisi lainya karya sastra ini juga akan terkandung suatu aspek yang berupa hal yang dapat mendidik pembacanya.
• Fungsi Estetis
Fungsi estetis di dalam karya sastra ini mempunyai artian yaitu dapat memberikan nilai-nilai keindahan di dalamnya. Nilai keindahan yang terdapat di dalam karya sastra tersebut dapat dinikmati dan dirasakan bagi semua penikmatnya.
• Fungsi Moralitas
Nilai moral berguna dan bertujuan untuk mendidik diri pribadi yang terdapat di dalam kalangan masyarakat yang ada. Kemudian pada nilai moral ini dapat berupa keyakinan terhadap Tuhan, adil, menghargai sesama, tolong menolong, kasih sayang, dan lain sebagainya. Nilai moral ini akan dijadikan sebuah landasan dalam pembuatan karya sastra sebab ketika nantinya pengarang membuat karya sastra unsur dan aspek yang harus mereka perhatikan adalah nilai-nilai yang terdapat di dalam karya sastra itu nantinya.
c. Jenis-jenis Karya Sastra
Sesuai dengan pengertian yang terdapat dalam karya sastra, bahwasanya di dalam pengertian tersebut selalu mengacu kepada aspek yang berupa karya imajinatif yang memiliki sifat estetis. Maka dengan demikianlah dalam hal ini sering dikatakan sebagai bidang dengan jenis imajinatifnya seperti prosa fiksi dan puisi. Padahal selain hal tersebt, juga banyak karya imajinatif lainnya seperti karya non imajinatif dan non fiksi juga telah banyak diciptakan. Di dalam hal ini terdapat pembagian jenis sastra sesuai dengan pendapat oleh Sumardjo dan Saini (1997, hlm. 18). Karya sastra ini terbagi menjadi dua bagian yaitu karya sastra imajinatif dan non imajinatif :
• Sastra Imajinatif
Dalam aspek ini sastra imajinatif terbagi atas dua bagian yaitu Puisi dan Prosa
1) Puisi : puisi merupakan bentuk tulisan bebas yang dibuat oleh seorang pengarang atau penyair. dimana dalam puisi ini terdapat penggambaran aspek yang berupa ekspresi dan gagasan penulisannya, penjadian dan pengelompokan puisi ini dapat bermakna disebabkan karena adanya pembagian yang disusun berdasarkan bait-bait yang ada. Maka setiap penggalan bait yang terdapat di dalam karya sastra tersebut akan mempunyai makna tersendiri. Tetapi antar bait yang ada akan selalu berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Tulisan yang dibentuk dan dijadikan dalam bentuk baik tersebut diolah sedemikan rupa agar nantinya dapat menghasilkan tulisan estetis yang dapat menggugah dan memberikan pesan secara tidak langsung melalui berbagai gaya bahasa yang ada. Gaya bahasa memiliki peranna yang sangat penting di dalam puisi ini, dengan adanya gaya bahasa karangan sastra berupa puisi tersebut dapat tersalurkan dan terposisikan secara baik di dalam bait-bait yang ada. Kemudian dibalik semua itu akan terdapat pesan tersirar yang akan disampaikan oleh pengarang, pesan tersirat itu antara satu individu akan berbeda penafsiran pesan yang didapatkan oleh dirinya, karena semua akan hal itu tergantung kepada keadaan dan kondisi yang dimiliki oleh diri pembaca sastra ketika saat itu. Di dalam aspek ini banyak sekali bentuk pembagian dari puisi ini, diantaranya adalah epik, lirik, dramatic, dan sebagainya.
2) Prosa : prosa merupakan termasuk kedalam bagian karya sastra. Pada prosa ini terdapat suatu bentuk tulisan berupa cerita atau kisah berplot dalam bentuk rangkain berbagai peristiwa yang dihasilkan dari imajinasi, artinya pengisahanlah yang akan diterangkan dan diberikan dalam prosa ini, didalamnya akan tersangkut aspek yang beruap imajinasi pengarang. Prosa ini juga dihasilkan dari cerminan dalam sebuah kenyataan yang ada pada kehidupan manusia, dan bisa juga dari data dan informasi yang sesungguhnya berdasarkan fakta ilmiah. Maka dengan demikianlah dapat dikatakan bahwasanya karya sastra berupa prosa ini merupakan sebuah sastra yang lebih mementingkan unsur kefaktaan di dalamnya, tanpa memandang daya khayalan semata. Semua aspek yang ada akan selalu disandingkan dengan kenyataan-kenyataan yang ada pada prosa tersebut. Sesuai dengan kenyataan yang ada bahwasanya jenis karya sastra ini terbagi menjadi dua bagian yaitu prosa fiksi, dan prosa non fiksi.
• Sastra Non-Imajinatif
Karya sastra non imajinatif merupakan suatu karya sastra yang tidak memiliki daya khayalan di dalamnya, tetapi dalam sastra ini akan mengacukan sastra kepada kenyataan yang bersifat alamiah tanpa adanya penambahan dan pengurangan dalam suatu unsur, yang dapat membuat hilangnya kenyataan pada karya sastra tersebut. Karya tulis ini akan mencari data data faktual yang telah benar-benar teruji kefaktaan di dalamnya, sehingga nantinya ketika pembaca atau penikmat karya sastra membaca sastra ini, maka tidak ada keraguan lagi yang timbul di dalam dirinya. Karena pengarang telah menyakinkan pembaca bahwa data yang disandingkan di dalam unsur ini adalah sebuah data yang benar-benar real atau nyata. Tetapi dalam pengemanasan karya sastra ini nantinya akan dibualut dan dilapisi dengan kata-kata yang mengandung usur keindahan di dalamnya, tanpa mengusik dan merusak sifat kenyataan yang terdapat dalam karya sastra itu sendiri. Sehingga nantinya akan dapat menggugah hati seorang pembaca atau penikmat karya sastra. keyakinan orang lebih banyak mengacu kepada karya sastra berupa non imajinatif ini jika dibandingkan dalam karya sastra imajinatif, dalam karya sastra imajinatf tersebut terdapatnya unsur yang berupa peniruan dari kehidupan kenyataan yang dirasakan oleh manusia.
Bahwasanya terdapat pembagian dan contoh dari karya sastra non imajinatif ini adalah sebagai berikut :
• Esai
• Kritik
• Biografi
• Otobiografi
• Sejarah
• Memoar
• Catatan harian
• Surat-surat
3. Strategi Pembelajaran Sastra
Pembelajaran atau pengajaran terhadap karya sastra dalam era globalisasi ini hendaklah dapat memberikan unsur kesenangan, kreatif, dan inovatif. Dalam membelajarkan dan pembelajaran pun tidak haruslah murid yang mampu memiliki daya dan kemampuan kreatifitas tetapi seorang guru juga harus belajar dan memahami daya kreatifitas dalam sastra terkhususnya. Strategi pembelajaran sastra yang dimaknai sebagai strategi yang baik adalah sebuah strategi yang memiliki unsur hiburan dan kebahagian di dalamnya, unsur kebahagian dan kesenangan akan dirasakan ketika seseorang pembaca dan penyimak karya sastra telah dilakukan. Hal ini timbul karena adanya keinginan yang diinginkan oleh seseorang untuk dapat merasakan kebahagian dan kesenangan di dalamnya. Maka dengan demikianlah bahwasanya karya sastra ini mempunyai strategi umum yaitu untuk dapat memberikan unsur dan aspek hiburan bagi pembaca dan penikmatnya.
Disisi lain proses pembelajaran yang baik terdapat dalam sastra adalah proses pembelajaran yang dapat menimbulkan daya ingat kreatifitas manusia. Sehingga timbulnya semangat dan antusias yang tinggi. Kedua aspek antara guru dan siswa saling membutuhkan, karena guru juga akan membutuhkan kritikan dari seorang murid, juga membutuhkan pernyataan yang diungkapkan oleh seorang murid, sehingga ketika nantinya proses pembelajaran ini berlangsung maka guru juga akan ikut dalam menganalisis bagian-bagian yang terdapat di dalam karya sastra tersebut.
Dalam aspek ini agar nantinya dapat memunculkan pembelajaran sastra yang menarik dengan perkembangan zaman yang ada, maka dengan demikianlah perlu diperhatikan beberapa elemen faktor penting yang akan dapat membuat kesuksesan dan kesenangan dalam pembelajaran sastra, sebagaimana mestinya banyak sekali keluhan para terdidik terhadap pembelajaran dan membelajarkan sastra ini, dengan demikianlah maka terdapat dua faktor yang akan dapat menunjang pembelajaran sastra di sekolah yaitu :
• Pertama, peranan guru sastra
• Kedua adalah metode sistem pembelajaran sastra. kedua faktor ini nantinya akan menjadi kunci utama dalam kesuksesan pembelajaran sastra, tanpa adanya kedua unsur ini maka pengajaran sastra tersebut tidak akan pernah berhasil.
Karena dua elemen inilah nantinya yang akan berperan penting dalam kemajuan pembelajaran siswa terhadap pembelajaran sastra yang ada. Guru adalah sosok manusia yang akan memberikan pengajaran kepada siswa. Suksesnya seorang guru dalam mengajarkan dapat dilihat ketika proses pembelajaran itu berlangsung, ketika nantinya seorang guru tidak mampu menemukan hasil dari pembelajaran tersebut maka pembelajaran itu tidaka dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang benar-benar matang dan baik.
1. Peranan Guru
Seorang guru yang kurang memahami terkait sastra dan guru yang tidak profesional akan membuat kegagalan di dalam pembelajaran sastra nantinya, sebab guru yang akan memberikan, gurulah yang akan menuangkan seluruh bentuk pemahaman yang didapatkan, ketika nantinya seorang guru tidak dapat mengaktualisasikan pemikirannya terhadap sastra maka akan menjadi faktor penghambat dalam pengajaran sastra yang ada disekolah. Sebagai bentuk ungkapan yang telah dikemukakan oleh para ahli, yaitu Santosa dan Djamari (2015:7-8) guru sastra yang terdapat di dalam sekolah dasar dan sekolah menengah keatas, pada dasarnya materi dan pembelajaran terkait sastra akan digabungkan ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Maka untuk dapat menentukan kuliatias dan kuantitas yang dimiliki oleh guru tersebut adalah lihatlah dari mana asal dan tamatan pendidikan yang telah ditempuh oleh guru sastra tersebut, ketika nantinya dirinya adalah seorang tamatan dari pembelajaran sastra dan bahasa maka akan mudah dirinya dalam membelajarkan sastra. begitupun sebaliknya ketika guru yang akan mengajari materi dan pembelajaran terkait sastra tersebut, semisal guru yang berasal dari lulusan sejarah, geografi, ekonomi, matematika dan lain sebagainya. Maka akan menjadi faktor yang sangat menghambat kesuksesan dalam pembelajaran sastra tersebut. Maka hendaklah seorang guru harus mampu memerankan dirinya sesuai dengan kapasitas dan pengalaman yang dimiliki olehnya.
Terdapat hal penting yang harus diperhatikan dalam strategi pembelajaran sastra ini adalah seorang guru yang memberika porsi pengajaran bahasa jauh lebih tinggi dari pada pembelajaran terkait dengan sastra maka aspek ini akan memicu terjadinya hambatan dalam pembelajaran sastra tersebut.
Dalam strategi pembelajaran sastra ini terdapat beberapa bentuk aspek yang diharapkan dari pembelajaran sastra tersebut. Dimana tanggung jawab ini akan ditangguhkan kepada seorang guru yang akan mengajarkan sastra tersebut, maka dengan demikianlah terdapat beberapa bentuk aspek yang akan diharapkan dari pembelajaran sastra ini antara lain :
- Mendidik siswa agar memiliki kecintaan terhadap sastra
- Membekali siswa agar di kemudian hari mampu menggali kariernya dalam menyosong kehidupan di masa yang akan datang.
- Membekali diri sendiri agar mampu mengapresiasi karya sastra sebelum ia sendiri mengajarkan apresiasi ini kepada siswanya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sastra merupakan suatu bentuk cerminan kehidupan manusia yang dituangkan melalui pemikiran dan imajinasi seseorang. Dimana dalam sastra tersebut akan banyak mengandung nilai-nilai terkait tentang segala bentuk aspek kehidupan manusia. Pendidikan di dalam sastra in bukan hanya sekedar mengajarkan sesuatu hal yang beruapa pengetahuan yang akan selalu menyangkut tentang sastra seperti teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra. Tetapi hal lain yang terdapat dalam pendidikan sastra ini adalah untuk dapat mendorong dan mengiringi seorang terdidik agar dapat mencintai menyukari setiap ciptaan-ciptaan karya sastra yang telah dihasilkan oleh para sastrawan.
DAFTAR PUSTAKA
Danandjaja, James. 1984. Folklor Indonesia: Ilmu gossip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafiti Pres.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Presinfo.
Erowati, Rosida. 2011. Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Hutomo, Suripan Sadi. 1991. Mutiara yang terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: HISKI Jawa Timur.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa teori sastra, metode kritik, dan penerapannya. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Sumardjo, Jakob. 1992. Sinopsis Roman Indonesia. Cetakan ke-4. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Sutrisno, Mudji. 2013. Ranah-ranah kebudayaan. Cetakan ke-5. Yogyakarta: Kanisius.
Taum, Yoseph Yapi. 2011. Studi sastra lisan: sejarah, teori, metode, dan pendekatan disertai contoh penerapannya. Yogyakarta: Lamalera.
Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar teori sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Komentar
Posting Komentar