A. PENGERTIAN SEMANTIK
Menurut Pateda (2008:7) semantik
adalah
subdisiplin
linguistik
yang membicarakan makna. Dengan kata lain
semantik berobjekkan makna. Definisi
semantik
berdasarkan
asal
katanya,
semantik berasal dari bahasa Yunani sema
yang berjenis benda yang berarti „tanda‟
atau „lambang‟, sedangkan kata kerjanya
adalah semaio yang berarti „menandai‟
atau „melambangkan‟. Lambang adalah
tanda linguistik. Kata semantik kemudian
disepakati sebagai istilah yang digunakan
untuk bidang linguistik yang mempelajari
hubungan antara tanda-tanda linguistik
dengan hal-hal yang ditandainya. Dengan
kata lain bidang dalam linguistik yang
mempelajari makna atau arti (Abdul
Chaer, 1994:2).
Aristoteles
(dalam
Aminuddin,
2008:15) sebagai pemikir Yunani yang
hidup pada masa 384-322 SM, adalah
pemikir pertama yang menggunakan
istilah „makna‟ lewat batasan pengertian
kata
adalah
„satuan
terkecil
yang
mengandung makna‟. Dalam hal ini,
Aristoteles juga telah mengungkapkan
bahwa makna yang hadir dari kata itu
sendiri secara otonom, serta makna kata
yang hadir akibat terjadinya hubungan
gramatikal.
Bahkan
Plato
(dalam
Aminuddin, 2008:15) dalam Cratylus
mengungkapkan
bahwa
bunyi-bunyi
bahasa itu secara implisit mengandung
makna-makna tertentu.
B. MAKNA
Kempson (dalam Pateda, 2008:18)
berpendapat ada 4 syarat yang harus
dipenuhi untuk mendeskripsikan semantik.
Keempat syarat itu ialah sebagai berikut.
- Teori itu harus dapat meramalkan
makna setiap satuan yang muncul yang
didasarkan pada satuan leksikal yang
membentuk kalimat
- Teori itu harus merupakan seperangkat
kaidah.
- Teori itu harus dapat membedakan
kalimat yang secara gramatikal benar
dan yang dilihat dari segi semantik.
- Teori tersebut dapat meramalkan makna
yang berhubungan dengan antonym,
kontradiksi, sinonim.
C. JENIS-JENIS MAKNA
Banyak ahli yang berpendapat
tentang berbagai macam jenis makna.
Salah satunya Verhaar (dalam Pateda,
2008:9 6-132) mengemukakan istilah
makna gramatikal dan makna leksikal,
sedangkan Boomfield mengemukakan
istilah makna sempit (narrowed meaning),
dan makna luas (widened meaning).
- Makna Afektif
- Makna denotatif
- Makna deskriptif
- Makna ekstensi
- Makna emotif
D. MAKNA DAN KATA MAKNA
Persoalan
persoalan yang menarik dalam kehidupan
sehari-hari. Reklame atau baliho yang
dipasang di tepi-tepi jalan ada yang
bertuliskan
/lezzzat/.
memahami secara sepintas, kata tersebut
tidak
terdapat dalam kamus yan g
menunjukkan makna kata itu. Namun
setelah diteliti secara seksama dapat
dipahami bahwa yang dimaksudkan adalah
lezat, enak, sedap. Menurut Ullmann
(dalam Pateda, 2008:82) bahwa hubungan
antara nama dengan pengertian, itulah
yang disebut makna.
Semantik leksikal menekankan
kajian makna pada tingkat kata. Kata
merupakan momen kebahasaan yang
bersama-sama
dalam
menyampaikan
pesan
komunikasi. Menurut Ramlan (dalam
Pateda, 2008:134) kata adalah satuan
ujaran yang berdiri sendiri yang terdapat di
dalam kalimat, dapat dipisahkan, dapat
ditukar,
dapat
dipindahkan
mempunyai makna serta digunakan untuk
berkomunikasi.
E. MAKNA DAN BENTUK KATA
Pembicaraan tentang makna telah
diuraikan sebelumnya. Seperti yang telah
diuraikan di atas bahwa kedudukan makna
dalam kata merupakan satu unsure yang
saling mempengaruhi. Hal ini bergantung
pada bentuk kata yang saling melengkapi
sehingga menimbulkan makna. Menurut
Pateda (2008:135) bentuk kata dapat
dibagi atas: (1) bentuk dasar atau leksem
yang bermakna leksikal; (2) paduan
leksem; (3) bentuk berimbuhan; (4) bentuk
berulang; (5) bentuk majemuk; (6) bentuk
yang terikat konteks kalimat; (7) akronim;
dan (8) singkatan.
F. MAKNA BAHASA UNSUR NAMA
Nama memiliki tiga arti, yakni (1) kata
untuk menyebut atau memanggil orang (tempat,
barang, binatang, dsb); (2) gelar; sebutan; dan
(3) kemasyhuran; kebaikan (keunggulan); ke
hormatan’ (KBBI, 2007:773). Sedangkan dalam
istilah linguistik, nama lebih dikenal dengan isti
lah nama diri atau proper name/proper noun yang
memiliki arti ‘nama orang, tempat, atau benda’
(Kridalaksana, 2008:161). Disebutkan oleh Pal
mer dalam Semantics: Second Edition (1981:129)
nama juga disebut sebagai proper nouns yang
bisa digunakan sebagai nama orang, aspek, dan
benda yang memiliki makna tertentu. Nama di
jadikan identitas bagi pemiliknya untuk membe
dakannya dengan orang lain. Sehingga, sebagai
sebuah identitas bagi tiap orang, terkadang nama
memiliki sebuah makna tertentu. Berikut anali
sis bahasa unsur nama diri yang terdapat dalam
nama-nama mahasiswa Madura di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia yang meliputi
tiga unsur, yakni (1) Penamaan Berdasarkan dari
Bahasa Arab, (2) Penamaan Berdasarkan dari Ba
hasa Jawa, dan (3) Penamaan Berdasarkan dari
Bahasa Arab-Jawa. Ketiganya terdapat dalam
pembahasan sebagai berikut:
1. Penamaan Berdasarkan Bahasa Arab
Dari 40 data yang digunakan, sejumlah 15
nama yang menggunakan unsur Bahasa Arab.
Kelima belas nama tersebut, yakni (1) Amimah
Lailatul Nurfaidah, (2) Ana Jufri Ana, (3) Sulaiman,
(4) Jailani, (5) Farhah, (6) Fathur Rohman, (7) Moh.
Haris, (8) Choirul Anam, (9) Ummi Rodiyatul Rofiah,
(10) Miftahur Rohmah, (11) Robiatul Adawiyah, (12)
Uswatun Khasanah, (13) Syaiful Bahri, (14) Zainal
Abidin, dan (15) Atiqotul Izzah.
Ciri pemeluk agama Islam yang taat an
tara lain adalah di dalam melaksanakan Ibadah,
perilaku sehari-hari, dan dalam pemakaian nama
diri. Nama yang dipakai oleh para pemeluk aga
ma Islam mengambil kata-kata yang berasal dari
bahasa Arab. Di antara 15 data, berikut merupa
kan tiga contoh unsur nama Bahasa Arab yang
telah dimaknai.
(1) Amimah Lailatul Nurfaidah ‘pemimpin
perempuan yang lahir di malam hari bercahaya
dan bermanfaat’.
(2) Ana Jufri Ana ‘aku Jufri’.
(3) Sulaiman ‘Nabi yang sejak kecil telah
menunjukkan kecerdasan dan ketajaman pikiran
nya’.
2. Penamaan Berdasarkann Makna Urutan
Dianawati (1998:120) nama yang bermak
na urutan kelahiran adalah urutan kelahiran da
lam lingkungan saudara kandung. Dengan kata
lain, urutan kelahiran itu menyatakan anak yang
keberapa dalam keluarga. Dalam bahasa Jawa
komponen kata yang bermakna urutan adalah
eka bermakna „satu‟, dwi bermakna „dua‟,
tri bermakna „tiga‟. Selain itu komponen kata
yang bermakna urutan yaitu Alfa abjad pertama
dalam bahasa Yunani. Komponen kata Beta juga
bermakna urutan kedua dalam bahasa Yunani.
Mahasiswa PBI UTM dengan nama Cahaya Tri
Asmani, yang bermakana ‘nama anak perempu
an ketiga yang bercahaya’. Kata ‘Tri’ bermakan
urutan ke tiga dalam bahasa Jawa.
Konstruksi nama Dwi Kurniawati berasal
dari urutan nama Dwi berarti anak ke-2. Kurnia
wati yang berarti Perempuan yang penuh karu
nia. Konstruksi nama Meta Dwi Putri bermakna
anak perempuan urutan ke-2 yang memiliki tuju
an hidup. Kedua nama tersebut bermakna urutan
ke-2 dengan unsur nama Dwi.
Konstruksi nama Pratiwi Tri Setyawati se
lain menggunakan unsur nama tokoh dalam
unsur Pratiwi, nama tersebut juga menggunakan
urutan sebagai dasar pembentukannya. Urutan
tersebut ada pada unsur “Tri” yang artinya tiga
merupakan refleksi bahwa pemilik nama tersebut
adalah anak ke-3.
3. Penamaan Berdasarkan Nama Tokoh
Selain itu ada pula orang tua yang dalam
memberikan nama kepada anaknya mengam
bil dari nama tokoh agama Islam. Nama yang
diambil dari nama tokoh Islam yaitu nama Mu
hammad nama laki-laki yaitu nama Nabi yang
mempunyai sifat terpuji. Nama Sulaiman juga
salah datu nama nabi. Nama Ridwan merupakan
nama anak laki-laki yang diambil dari bahasa
Arab yang nama salah satu malikat Alloh.
Konstruksi nama Pratiwi Tri Setyawati me
rupakan nama yang terdiri atas tiga unsur. Unsur
pertama Pratiwi berarti kelak diharapkan menjadi
wanita yang bijak seperti istri Wisnu (Pratiwi).
Tri menandakan bahwa anak ke-3. Setya dan
sufikswati yang berarti perempuan yang setia.
Kesatuan makna nama tersebut adalah perempu
an anak ketiga yang setia yang diharapkan akan
menjadi wanita yang bijak seperti istri Wisnu.
Pada nama diri terkandung status agama
seseorang. Hal tersebut seperti pada nama Muhammad mencerminkan pemilik nama tersebut
merupakan orang Islam. Selain itu, konstruksi
nama yang mengandung Muhammad dalam data
ditemukan varian Muhammad, Mohammad, dan
bentuk singkatan Moh.dan M. Moh Ridwan, Mohammad Ullul Azmi, Moh. Salwani Michrob, Moh.
Makhtum, M. Hadi Masrukin, Muhammad Mas
duqi. Berdasarkan nama-nama tersebut, terdapat
tiga variasi nama Muhammad sebagai unsur awal
nama mahasiswa laki-laki di kelas C. Sebanyak
dua nama Muhammad yang disingkat dengan
“Moh.” Dan “M.” Keduanya merupakan ciri
khas penamaan diri mahasiswa yang berasal dari
Madura.
Konstruksi nama-nama Muhammad dan
variannya merupakan nama yang menjadi pe
nanda kelompok santri. Dengan kata lain, kelu
arga orang tua yang memberi nama anaknya den
gan unsur Muhammad dan variannya itu berasal
dari kalangan agama Islam.
Konstruksi nama Ridwan merupakan un
sur nama yang diambil dari nama tokoh malai
kat Ridwan dalam Agama Islam sebagai malaikat
penjaga surga. Hal tersebut juga ditemukan pada
data mahasiswa bernama “Moh. Ridwan”. Se
lain itu, nama Ridwan juga bermakna keridaan.
Keridaan tersebut bermakna bahwa anak yang
lahir merupakan buah keridaan Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Afriansyah,
T., & Zakiyah, M. (2022). Metafora Aktivitas Manusia Dalam Kosakata
Kekinian Bahasa Indonesia: Kajian Semantik Kognitif. Semantik, 11(2),
229–244. https://doi.org/10.22460/semantik.v11i2.p229-244
Chaer,
Abdul. 2007. Kajian Rineka Bahasa: Struktur Internal, Pemakaian dan
pemelajaran. Rineka Cipta.
Kase, S.
(2019). Penerapan Semantik Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sma Negeri 3
Gorontalo. Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial Dan Budaya, 6(2),
145. https://doi.org/10.32884/ideas.v6i2.195
Khotimah, K. dan I. F. (2019). Kajian
Semantik Nama Diri Mahasiswa Madura di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia Universitas Trunojoyo Madura. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra
Indonesia, 8(1), 51–55.
Kridalaksana,
Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Pateda,
Mansoer. 2008. Semantik Leksikal. Gorontalo: Viladan Gorontalo.
Komentar
Posting Komentar